Menolak Punah: Guru Besar UNEJ Ungkap Peran Perempuan di Balik Ketahanan Ludruk Jember dan Mak Yong Malaysia

“Di balik redupnya berbagai kesenian tradisional, Ludruk Jember dan Mak Yong Malaysia ternyata memiliki cara tersendiri untuk terus hidup.

Melalui publikasi di jurnal Scopus Q1 Pertanika Journal of Social Sciences & Humanities pada Desember 2025, Guru Besar Universitas Jember Prof. Akhmad Taufiq menjelaskan bahwa keberhasilan kedua seni tradisi ini bertumpu pada dua hal utama:kemampuan beradaptasi dengan selera penonton modern, serta peran penting perempuan sebagai pengelola utama di balik panggung.”

Jember, 30 Oktober 2026
Dua tradisi seni pertunjukan rakyat dari dua negara berbeda, Ludruk dari Jawa Timur, Indonesia, dan Mak Yong dari Kelantan, Malaysia, ternyata punya rahasia bertahan hidup yang sama, yakni kepemimpinan perempuan yang tangguh dan kemampuan beradaptasi di tengah gempuran zaman. Meski terpisah jarak ribuan kilometer, kedua tradisi ini terus bertahan berkat peran penting perempuan yang menjadi penopang utama di balik maupun di atas panggung. Fenomena sosial dan strategi ketahanan budaya ini diungkap secara mendalam oleh Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember, Prof. Akhmad Taufiq, bersama mitra dari Universiti Putra Malaysia (UPM).

Riset berbasis etnografi kritis yang membandingkan Ludruk Wetanan dan Mak Yong ini menegaskan bahwa pondasi utama ketahanan kedua seni pertunjukan rakyat tersebut berada di tangan perempuan. Di tengah ancaman penurunan jumlah penonton, sengitnya kompetisi hiburan digital, hingga tantangan regenerasi, perempuan bukan sekedar sebagai pelengkap pertunjukan, melainkan pilar utama dan penentu keberlanjutannya. Hal ini tercermin pada Ludruk Setia Kawan dan Maharani di jember, serta komunitas Mak Yong di Kuala Lumpur.

Prof. Akhmad Taufiq menjelaskan hasil penelitiannya mengenai strategi adaptasi Ludruk Jember dan Makyong Malaysia dalam menghadapi perubahan zaman.

“Sebenarnya sederhana, tidak rumit-rumit,” ujar Prof. Taufiq menjelaskan temuan utamanya. “Para pelaku seni tradisi di manapun itu, pasti disibukkan dengan problem domestiknya: bagaimana cara mereka memenuhi kebutuhan hidup. Dan ternyata yang menjadi pondasi adalah perempuan. Saya ingin menyampaikan pesan bahwa multi-peran itu tidak hanya ada di dimensi lain, tapi di seni tradisi juga ada.”

Realitas multi-peran tersebut terlihat nyata pada sosok pemimpin perempuan kelompok ludruk di Jember yang memikul tugas sebagai pimpinan grup, manajer, aktris, koreografer, pencipta lakon, hingga pemain pengganti darurat. Pola serupa juga dijumpai pada Mak Yong Malaysia melalui sosok maestro perempuan, Mama Fatimah seorang tokoh seni tradisi Mak Yong, pewaris generasi kedua dari Kelantan yang kini mengajar di Akademi Seni Budaya dan Warisan Kebangsaan (ASWARA) di Kuala Lumpur sebagai penjaga repertoar sekaligus penentu cerita pementasan. Kompleksitas kepemimpinan perempuan ini menjadi kunci utama yang menjaga kelompok seni tetap harmonis dan terus berjalan.

“Bayangkan jika kasusnya perempuan jadi pimpinan, dia kompleks. Tetap memperhatikan soal anak, dirumah ada makanan atau tidak, membagi penghasilan agar setiap kru grup seni tradisi tetap kompak dan rukun,” kata Prof. Taufiq menggambarkan beban ganda yang dipikul para pemimpin perempuan tersebut.

Guru Besar UNEJ Prof. Akhmad Taufiq saat melakukan wawancara mendalam bersama pimpinan Ludruk Setia Kawan Jember, Mbak Wulan, dan sang suami, Mas Slamet, di kediamannya pada 2024.

Namun di luar kepemimpinan perempuan, riset ini mengungkap bahwa rahasia bertahan hidup Ludruk dan Mak Yong terletak pada adaptasi yang terukur tanpa mengorbankan jiwa tradisinya. Ludruk Jember, misalnya, beradaptasi dengan menyisipkan kontes menyanyi, lagu campursari, hingga musik dangdut di tengah pertunjukan. Langkah ini dilakukan tanpa membuang cerita-cerita lokal khas Jember seperti Sogol dan Babad Tanah Jember sebagai identitas utama, serta memanfaatkan bahasa Jawa maupun Madura secara luwes menyesuaikan latar belakang penonton. Di sisi lain, Mak Yong beradaptasi dengan memangkas durasi pertunjukan yang dahulu berlangsung selepas Isya hingga larut malam menjadi maksimal dua setengah jam agar tetap sejalan dengan gaya hidup masyarakat modern.

Ketertarikan dan dedikasi mendalam terhadap seni tradisi ini berakar dari perjalanan hidup sang peneliti sendiri. Prof. Taufiq mengenang bagaimana masa kecilnya membentuk ikatan batin yang kuat dengan dunia ludruk.

“Dulu tetangga-tetangga saya, kalau ada yang memutar ludruk, saya lari, saya datangi, terus saya dengarkan lakon Sogol, lakon Sarip Tambak Oso. Saya suka,” kenangnya. Kecintaan masa kecil itu kemudian berlanjut ke jenjang akademik S2 pada tahun 2004 ketika ia mulai meneliti Ludruk Setia Kawan di Jember, hingga akhirnya berkembang menjadi kolaborasi internasional bersama Dr. Fazilah Husin dari UPM pada tahun 2024.

Prof. Akhmad Taufiq saat melakukan wawancara dengan Mama Fatimah Abdullah, maestro Mak Yong yang juga pengajar di Akademi Seni Budaya dan Warisan Kebangsaan (ASWARA) Kuala Lumpur, Malaysia, pada 2024.

Berdasarkan pengamatannya selama meneliti, Prof. Taufiq menilai bahwa kemampuan beradaptasi di atas panggung saja belum cukup untuk menjamin masa depan seni tradisi.

“Kunci mempertahankan seni tradisi itu ada dua hal. pertama memastikan adanya regenerasi yang mana dapat berbasis kekeluargaan, seperti Ludruk Setia Kawan yang mengkader keluarga dan anak. Kedua, rekognisi nyata dari pemerintah, terkait pengembangan kebijakan yang peduli dengan seni tradisi, misalnya dengan memberikan beasiswa kebudayaan untuk anak-anak yang berasal dari pelaku seni ludruk dan mau melestarikan ludruk, agar sekolah atau kuliahnya tidak terbeban biaya SPP.” tegas Prof. Taufiq; selain pengembangan kurikulum berbasis seni tradisi yang tidak kalah penting.

Terkait regenerasi, beliau menambahkan bahwa proses tersebut dapat berlangsung baik melalui jalur keluarga maupun formal seperti sekolah dan pelatihan. Namun, penguasaan keterampilan harus disertai komitmen batiniah agar kelompok seni tidak gulung tikar saat terjadi pergantian generasi. Sementara terkait peran pemerintah, dukungan yang diberikan hendaknya bersifat berkelanjutan dan nyata.

Salah satu pementasan Ludruk Setia Kawan Jember berjudul Ayam Putih yang dipublikasikan melalui kanal YouTube. (dok: YouTube Joss Bolo Dewe)

Menatap masa depan, upaya menjaga keberlanjutan seni tradisi pada akhirnya kembali kepada masyarakat melalui langkah sederhana: kemauan untuk memberikan apresiasi dasar dengan mau hadir dan melihat. Prof. Taufiq memberikan pesan penutup yang tajam bagi generasi muda.

“Budaya itu butuh apresiasi. Apresiasi paling rendah adalah mau melihat. Kalau orang sudah tidak mau melihat, kan acuh. Kesadaran untuk melihat adalah apresiasi pertama. Lihatlah mereka, baik tatapan pertama maupun tatapan yang lebih dalam tentang kehidupan mereka, nanti hati kita akan tersentuh,” tuturnya. (qf)