Jember, 7 September 2026
Ada kalanya, keberanian tidak hadir sebelum seseorang melangkah, tetapi justru tumbuh setelah ia berani mencoba.
Hal itulah yang dirasakan Afinda Nur Prasantiara, mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember (UNEJ) angkatan 2024, ketika membawa langkahnya hingga ke Taiwan melalui Mandarin Summer Camp. Berangkat dengan kemampuan Bahasa Mandarin yang masih terbatas, ia pulang dengan kepercayaan diri yang jauh lebih besar dan pandangan bahwa dunia ternyata begitu luas untuk dijelajahi.Afinda menjadi salah satu dari tiga mahasiswa Universitas Jember yang mengikuti Mandarin Summer Camp 2026 di Da-Yeh University, Taiwan. Selain Afinda dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, terdapat dua mahasiswa dari Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNEJ yang turut mengikuti program tersebut. Kehadiran ketiga mahasiswa ini menjadi kesempatan bagi UNEJ untuk memperluas pengalaman dan jejaring mahasiswa di lingkungan internasional.

Ketertarikan itu bermula dari keinginan sederhana untuk mencoba pengalaman belajar di lingkungan internasional. Sebelumnya, Afinda belum pernah merasakan langsung suasana belajar bersama mahasiswa dari berbagai daerah dan latar belakang. Kesempatan tersebut akhirnya membawanya mengikuti program yang diselenggarakan di Da-Yeh University, Taiwan.
Sebelum keberangkatan, Afinda bersama mahasiswa lainnya juga mendapatkan dukungan dan arahan dari pihak UNEJ, khususnya fakultas. Dukungan tersebut diberikan melalui informasi mengenai berbagai persiapan yang perlu dilakukan sebelum mengikuti program, sekaligus arahan mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan selama berada di Taiwan.

“Karena kami di sini membawa nama UNEJ sebagai mahasiswa yang mewakili universitas, tentunya ada tanggung jawab juga untuk menjaga nama baik UNEJ selama mengikuti program,” ungkapnya.
Selama berada di Da-Yeh University pada 22 Juli – 4 Agustus 2026, Afinda mengikuti berbagai kegiatan yang memadukan pembelajaran bahasa dan pengenalan budaya. Setiap hari, peserta mengikuti kelas Bahasa Mandarin mulai dari perkenalan diri hingga percakapan sederhana. Para laoshi atau pengajar juga menggunakan permainan dan aktivitas interaktif untuk membuat pembelajaran bahasa yang cukup menantang terasa lebih menyenangkan.
Pembelajaran kemudian dilengkapi dengan cultural and art class, seperti melukis, kaligrafi Mandarin, hingga cooking class yang dibimbing langsung oleh pengajar dan chef profesional. Peserta juga mengikuti campus tour serta one-day trip ke Sun Moon Lake. Pengalaman tersebut menjadi semakin bermakna karena Afinda tidak hanya belajar dari buku atau ruang kelas. Ia berkesempatan menggunakan Bahasa Mandarin secara langsung ketika berkomunikasi dengan para laoshi.
“Saya harus mencoba menyusun kata-kata yang sudah dipelajari selama program untuk dipraktikkan secara langsung. Dari situ saya merasa lebih percaya diri,” tuturnya.

Meski demikian, perjalanan itu tidak langsung terasa mudah. Dua hingga tiga hari pertama menjadi masa adaptasi bagi Afinda. Perbedaan budaya, cuaca, makanan, bahasa, hingga sistem transportasi sempat membuatnya mengalami culture shock dan sedikit homesick. Ia juga perlu membiasakan diri menggunakan bus, kereta, maupun sepeda listrik untuk bepergian.
Tantangan tersebut perlahan berubah menjadi pengalaman belajar. Dukungan panitia, laoshi, dan teman-teman membuat Afinda mampu beradaptasi dengan lingkungan baru. Dari sana, ia belajar bahwa keberanian tidak selalu berarti tidak takut, melainkan tetap memilih mencoba meski belum sepenuhnya siap. Salah satu pengalaman paling berkesan baginya adalah bertemu dengan mahasiswa dari berbagai universitas dan latar belakang. Berinteraksi dengan orang-orang baru membuatnya belajar berkomunikasi, membangun kepercayaan diri, sekaligus membawa nama Universitas Jember di lingkungan internasional.

Bagi Afinda, pengalaman mengikuti Mandarin Summer Camp juga menjadi pengingat bahwa kesempatan internasional tidak seharusnya hanya dilihat dari kemungkinan untuk lolos. Menurutnya, mahasiswa perlu berani mencoba terlebih dahulu dan tidak merasa minder sebelum mendaftar. Ia menyarankan mahasiswa yang ingin mengikuti program serupa untuk membaca persyaratan dengan baik dan mempersiapkan diri sejak jauh-jauh hari ketika menemukan informasi mengenai program internasional. Persiapan tersebut perlu dibarengi dengan keberanian untuk keluar dari zona nyaman.

“Jangan takut mencoba dan jangan merasa minder sebelum mendaftar. Kalau ada informasi mengenai program internasional, coba baca persyaratannya dengan baik dan persiapkan diri dari jauh-jauh hari. Jangan hanya berpikir takut tidak lolos atau takut tidak bisa beradaptasi. Justru pengalaman seperti summer camp menjadi kesempatan untuk belajar, bertemu orang baru, mengenal budaya lain, dan mengembangkan diri,” pungkasnya. (dil/ajf)
#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #IKU3 #IKU5 #IKU7

