Jember, 10 Juli 2026
Di balik setiap butir padi yang sampai ke meja makan, ada petani yang setiap hari bertaruh dengan risiko kesehatan yang jarang disorot.
Data menunjukkan lebih dari 43 persen petani di Desa Jenggawah, Kabupaten Jember, terpapar pestisida pada tingkat tinggi, dan hampir 9 dari 10 petani belum menggunakan alat pelindung diri (APD) secara lengkap saat bekerja. Menjawab kondisi ini, Fakultas Kedokteran Universitas Jember (FK UNEJ) menghadirkan Rumah Tani Sehat (RTS) — sebuah model intervensi kesehatan kerja berbasis desa yang menempatkan petani bukan sekadar pelaku usaha tani, melainkan kelompok rentan yang berhak atas perlindungan kesehatan yang setara.Skrining sebagai Jantung Program
Berbeda dari program penyuluhan kesehatan kerja pada umumnya yang berhenti di edukasi satu arah, RTS menjadikan skrining kesehatan petani sebagai instrumen evaluasi berkala. Saat ini tim tengah mengumpulkan data baseline — mencakup tanda vital, status gizi, hingga skrining gejala neurotoksisitas akibat pestisida — yang nantinya akan dibandingkan dengan hasil skrining lanjutan (endline) untuk mengukur sejauh mana program benar-benar mengubah derajat kesehatan petani.
Sejak diresmikan pada pertengahan 2026, RTS telah merekrut 20 Kader Kesehatan Pertanian dari perwakilan kelompok tani (poktan) setempat, yang menjadi penggerak utama program di lapangan. Setiap poktan juga dilengkapi kotak P3K beserta pelatihan penggunaannya, agar kegawatan di lahan — mulai dari luka benda tajam hingga gigitan ular — bisa ditangani sebagai pertolongan pertama sebelum petani dirujuk ke fasilitas kesehatan.
Dari Pestisida hingga Cabe Puyang
RTS juga membekali petani dengan edukasi tata cara penyimpanan dan pembuangan pestisida yang aman. Sebagai tindak lanjutnya, botol-botol bekas pupuk dan pestisida yang telah didekontaminasi kini disalurkan ke unit Bank Sampah Desa Jenggawah — hasil kolaborasi lain FK UNEJ yang telah merintis pengolahan sampah plastik sejak 2023 melalui hibah Matching Fund DIKTI — sehingga limbah pertanian tidak lagi mencemari lingkungan sekitar.
Di sisi ekonomi, RTS membekali petani dengan budidaya Cabe Puyang. Komoditas lokal ini dipilih karena selain berpotensi sebagai antioksidan alami untuk menekan dampak stres oksidatif akibat pestisida, Cabe Puyang juga relatif tahan kekeringan dan bernilai jual tinggi — menjadikannya alternatif sumber pendapatan yang tetap bisa dipanen kala tanaman pangan utama seperti padi terancam gagal panen akibat kemarau panjang.
Satu Ekosistem, Tiga Program
RTS tidak berjalan sendiri. Ia menjadi bagian dari ekosistem kesehatan dan lingkungan yang lebih besar di Desa Jenggawah, bersama Desa Binaan Kesehatan Jenggawah yang memberdayakan kader untuk skrining dan edukasi stunting, PHBS, serta penyakit infeksi bagi warga dewasa hingga balita. Baru berjalan dua kali pertemuan, program ini telah menjangkau sekitar 143 warga dewasa dan lansia serta 30 balita, dengan hasil pre-test dan post-test yang menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta dari rata-rata 75,45 menjadi 95. Selain itu, melalui program RTS, lebih dari 100 petani telah menjalani skrining kesehatan secara komprehensif, 30 petani telah mendapatkan edukasi dan pelatihan tentang kegawatdaruratan di lahan pertanian, dan terdapat 5 titik kios dan lahan pertanian yang telah menempelkan informasi tentang pestisida dan himbauan tentang penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) saat bekerja.
Ketiga inisiatif ini — RTS, Desa Binaan Kesehatan, dan Bank Sampah — dikelola oleh tim yang sama, di desa yang sama, dengan satu benang merah: menjadikan warga dan kader lokal sebagai subjek aktif yang menjaga kesehatan dan lingkungannya sendiri, bukan sekadar penerima program dari luar.
“Kami ingin RTS dan program-program di dalamnya jadi contoh bahwa kelompok yang selama ini jarang tersentuh program kesehatan formal — petani, buruh tani — sebenarnya sama pentingnya untuk dijaga seperti kelompok ibu-anak atau lansia yang lebih dulu punya program semacam posyandu dan posbindu,” tambah dr. Adelia.
Ke depan, tim berharap model Rumah Tani Sehat dapat terus dikembangkan dan direplikasi ke desa-desa binaan lain, sekaligus menjadi kontribusi nyata Universitas Jember dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada aspek kehidupan sehat dan sejahtera bagi seluruh lapisan masyarakat — termasuk mereka yang menanam pangan untuk kita semua.


