Jember, 10 September 2026
Bagi sebagian orang, melamun mungkin hanya berarti diam dan berpikir tanpa tujuan.
Berbeda bagi Citra Kristin Lase, peserta tangkai lomba cerita pendek (Cerpen) Pekan Seni Mahasiswa Nasional (PEKSIMINAS) XVIII kontingen Gorontalo, lamunan bisa menjadi awal dari sebuah cerita. Berangkat dari situ, ia merasa menemukan “rumah” ketika bertemu dengan peserta lain dalam PEKSIMINAS XVIII di Universitas Jember (UNEJ).“Rasanya kayak akhirnya menemukan orang-orang yang mengerti apa arti ‘lamunan’,” ujar Citra.
Menariknya, Citra mengaku mulai menyukai cerpen sejak 2021. Saat itu, ia lebih banyak menulis secara sederhana dan membagikan tulisannya melalui media sosial Facebook. Akan tetapi, kebiasaan tersebut sempat terhenti selama dua tahun, hingga kemudian, sebuah lomba di tingkat universitas kembali menariknya untuk membuka lembaran yang sempat ditutupnya. Dari sana, langkahnya bangkit kembali hingga berlanjut ke PEKSIMINAS XVIII dan Jember menjadi tempat pertama baginya merasakan langsung kompetisi seni mahasiswa di tingkat nasional.
“Saya senang dan sangat excited karena bisa menginjakkan kaki di Jember. Terlebih bertemu dengan teman-teman yang keren-keren,” imbuhnya.

Kesan itu tidak hanya muncul dari perlombaan, lingkungan kampus UNEJ turut membuat Citra menikmati kedatangannya di Jember. Lebih lanjut, ia mengaku menyukai suasana kampus yang menurutnya asri, dengan pepohonan yang cukup banyak serta bangunan-bangunan yang menarik. Tak hanya itu, kesan serupa ia rasakan selama mengikuti perlombaan. Alih-alih menemukan suasana kompetisi yang membuat tegang, Citra justru merasa cukup nyaman berinteraksi dengan panitia maupun juri.
“Saya suka penataan kampusnya, banyak pohon, gedungnya juga cantik-cantik. Sewaktu lomba juga kakak-kakak maupun para juri sangat bersahabat sekali,” jelasnya.
Namun, salah satu pengalaman yang paling membekas justru datang dari pertemuannya dengan sesama peserta. Mereka datang dari daerah yang berbeda, membawa pengalaman dan cara pandang masing-masing. Dalam obrolan antara peserta, Citra menemukan bahwa perbedaan tersebut juga hadir dalam cara mereka menulis. Menurutnya, gaya penulisan seseorang dapat dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari panutan hingga lingkungan dan daerah tempat mereka tumbuh. Dalam ajang kali ini, Citra memilih menuangkan pandangannya sebagai seorang sosiolog ke dalam cerita pendeknya.
“Perbedaan penulisan tentu ada, tergantung dari role model siapa mereka contoh atau daerah tempat asal. Saat ini saya hanya pure memberi pandangan sebagai seorang sosiolog,” pungkasnya.

Perjalanan Citra di PEKSIMINAS XVIII akhirnya bukan hanya tentang hasil dari sebuah perlombaan. Di balik itu, ada pengalaman pertama datang ke Jember, bertemu mahasiswa dari berbagai daerah, membaca karya-karya dengan gaya yang beragam, hingga kembali menemukan kegembiraan menulis yang sempat hilang selama dua tahun. Bermula dari tulisan-tulisan yang ia tulis pada 2021, Citra kini sampai pada sebuah panggung nasional sebagai mahasiswa baru angkatan 2025. PEKSIMINAS mempertemukannya dengan banyak cerita, termasuk cerita tentang dirinya sendiri yang kembali menemukan jalan pulang ke dunia kepenulisan. (dil/rb)
#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #IKU3 #IKU7

