Jember, 19 September 2026
Gelar sarjana belum menjadi jaminan lulusan langsung terserap dunia kerja.
Persoalan kompetensi, kemampuan komunikasi, pengalaman lapangan hingga portofolio menjadi tantangan yang perlu dipersiapkan mahasiswa sejak masih berada di bangku kuliah.Persoalan tersebut menjadi perhatian Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Jember (UNEJ) melalui Workshop Persiapan Karir Mahasiswa bertema “Dari Kampus ke Industri: Strategi Menembus Dunia Kerja”, yang diselenggarakan di Hall FAPERTA UNEJ (10/09/2026). Kegiatan ini mempertemukan mahasiswa dengan praktisi dan akademisi untuk memberikan gambaran lebih konkret mengenai pilihan karier setelah menyelesaikan pendidikan.
Ketua Program Studi Agroteknologi Faperta UNEJ, Drs. Yagus Wijayanto, MA, PhD., dalam sambutannya mengatakan, kegiatan ini dipersiapkan untuk membantu mahasiswa menentukan arah karier sejak dini. Menurutnya, salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah kecenderungan lulusan Agroteknologi yang masih lambat dalam mengisi tracer study sehingga turut memengaruhi gambaran masa tunggu kerja lulusan.

“Mahasiswa perlu mulai menentukan karier sejak sekarang. Jangan menunggu setelah lulus baru mencari tahu harus bekerja di mana dan memiliki kompetensi apa. Salah satu hal yang perlu diperkuat adalah keterampilan komunikasi karena kemampuan akademik saja tidak selalu cukup untuk memasuki dunia kerja,” ujarnya.
Workshop diikuti mahasiswa Program Studi Agroteknologi angkatan 2023 yang dalam waktu dekat akan memasuki fase kelulusan. PIC kegiatan, Tri Wahyu Saputra, S.TP., M.Sc., dalam laporannya menjelaskan, kegiatan dirancang agar mahasiswa memperoleh gambaran mengenai pilihan karier sekaligus kebutuhan kompetensi di dunia profesional.
“Mahasiswa angkatan 2023 sebentar lagi memasuki dunia kerja. Karena itu, mereka perlu mendapatkan gambaran langsung dari orang-orang yang memahami kebutuhan industri, peluang kerja lulusan pertanian, serta kompetensi yang harus mulai dipersiapkan,” jelasnya.

Pemateri pertama disampaikan oleh Laily Mutmainnah, S.P., M.Si., Ketua Tim Penguatan Keterampilan Mahasiswa dan Alumni (PKMA) Faperta UNEJ, mengangkat, tema Potensi Alumni dan Peluang Dunia Kerja Lulusan Fakultas Pertanian. Ia menekankan pentingnya mahasiswa membangun nilai tambah yang membedakan dirinya dari pencari kerja lainnya.
Materi PKMA Faperta UNEJ menekankan perlunya menjembatani mahasiswa tingkat akhir maupun lulusan dengan pemberi kerja untuk mempercepat serapan kerja lulusan. Mahasiswa juga didorong membangun portofolio, meningkatkan kompetensi teknis, mengembangkan soft skill, mencari pengalaman sejak kuliah, dan memperluas jejaring.
“Mahasiswa perlu memiliki value atau nilai lebih. Portofolio bukan sekadar CV, tetapi bukti bahwa seseorang pernah melakukan sesuatu dan mampu menunjukkan kompetensinya,” terangnya.

Sementara itu, Ichwan Gayuh F., S.P., M.M., Supervisor PT East West Indonesia, melalui materi Step by Step di Bidang Pertanian, mengajak mahasiswa mengenali minat, menentukan target karier, membangun kompetensi, mencari pengalaman lapangan, membuat portofolio dan membangun networking. Kompetensi yang perlu dikembangkan tidak hanya terkait ilmu pertanian, tetapi juga komunikasi, negosiasi, pengolahan data, problem solving, manajemen dan kepemimpinan.
“Jangan hanya bertanya pekerjaan apa yang tersedia. Tentukan terlebih dahulu bidang yang diminati, kenali kemampuan yang sudah dimiliki, kemudian bangun kompetensi dan pengalaman yang mendukung target tersebut,” katanya.
Ia juga memperkenalkan beragam jalur karier bagi lulusan pertanian, mulai dari jalur profesional, pemerintahan, kewirausahaan hingga akademik.
“Lulusan pertanian tidak hanya bisa menjadi petani. Ada banyak jalur yang bisa ditempuh selama mahasiswa terus mengembangkan diri,” tambahnya.
Pemateri ketiga disampaikan oleh, Fakhrusy Zakaiyya, S.P., M.Sc., Ketua Peneliti Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka), mengangkat tema Inovasi Pertanian sebagai Langkah Karir yang Tepat. Ia mendorong mahasiswa melihat inovasi dan perkembangan teknologi pertanian sebagai bagian dari peluang karier, bukan sekadar materi akademik.
Di tempat terpisah. bagi mahasiswa, workshop tersebut memberikan perspektif baru mengenai dunia kerja. Reza Icha Lailatul Virginia misalnya, mahasiswi asal Banyuwangi ini mengatakan, kegiatan tersebut membantunya memperoleh gambaran mengenai karier di bidang pertanian. Ia berencana melanjutkan studi S2 melalui beasiswa dan tetap mengembangkan karier di bidang pertanian, termasuk mempelajari penerapan pertanian presisi.
“Sebelumnya saya punya gambaran, tetapi belum terlalu luas. Dari kegiatan ini saya mendapat pandangan tentang dunia kerja dan bagaimana teknologi pertanian bisa diterapkan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Galang Ariel Erlangga, mahasiswa asal Banyuwangi sekaligus Ketua Umum UKM Olahraga Faperta UNEJ. Ia mengaku masih mempertimbangkan pilihan setelah lulus, namun memiliki ketertarikan pada bidang alat dan mesin pertanian (alsintan).
“Saya berharap apa yang dipelajari selama kuliah benar-benar bisa diaplikasikan ketika masuk dunia kerja,” katanya.
Sementara itu, Abramovich Moses Yusuf, Ketua Umum UKKMK Faperta UNEJ, tertarik mengembangkan bidang hidroponik. Menurutnya, teknologi seperti sistem NFT memungkinkan budidaya tanaman dilakukan dengan kebutuhan lahan yang lebih terbatas.
“Saya tertarik melanjutkan studi dengan fokus pertanian hidroponik dan konstruksi pertanian, termasuk pengembangan greenhouse.” pungkasnya.(is)

