Jember, 6 Oktober 2026
Menyelesaikan program Magang Kependidikan Internasional di Brunei Darussalam pada akhir September lalu memberikan sudut pandang baru bagi Anastasya Aulia Maharani, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Jember (UNEJ).
Usai menjalani praktik mengajar dan pengambilan data skripsi di Sekolah Rendah Rimba II sejak 3 hingga 28 September 2026, Anastasya membagikan ragam catatan komparatif antara sistem pendidikan di Brunei dengan Indonesia.Anastasya, yang berangkat bersama lima mahasiswa FKIP UNEJ lainnya melalui kemitraan dengan Universiti Brunei Darussalam (UBD), memilih Brunei karena keterikatan budaya serumpun sekaligus daya tarik sistem pembelajarannya.

“Saya penasaran bagaimana praktik pembelajaran di negara yang masih serumpun dengan kita. Apakah ada hal yang berbeda atau justru banyak kesamaannya,” ungkap Anastasya saat membagikan pengalamannya di FKIP UNEJ, Senin (05/10/2026).
Selama mengajar di Sekolah Rendah Rimba II, ia mendapati suasana kelas yang relatif lebih tenang karena rasio jumlah siswa yang tergolong ringkas, yakni sekitar 200 siswa untuk satu sekolah. Dari sisi metode mengajar, ia mencatat bahwa guru-guru di Brunei cenderung dominan menggunakan prapresentasi slide, proyektor, dan lembar kerja. Hal ini menurutnya menjadi poin diferensiasi menarik, mengingat pendidik di Indonesia justru lebih masif memanfaatkan media konkret yang dapat disentuh langsung oleh siswa.
“Di Brunei aktivitas kelompoknya cukup bervariasi, tetapi media yang digunakan masih dominan berupa lembar kerja. Kalau di Indonesia, penggunaan media konkret cukup banyak dan interaktif,” jelasnya.

Dari segi tata kelola kurikulum, Brunei menerapkan Sistem Pendidikan Negara Abad ke-21 (SPN21) dengan lesson plan berdurasi ketat sekitar 30 menit per periode yang wajib dievaluasi oleh pihak sekolah setiap pekan. Pembiasaan ini dinilainya sangat disiplin secara administratif, berbeda dengan Kurikulum Merdeka di Indonesia yang memberikan fleksibilitas ruang bagi guru dalam merancang Modul Ajar, pembelajaran berdiferensiasi, maupun proyek karakter.
“Kalau di Brunei, lesson plan benar-benar diperiksa setiap minggu sehingga perencanaannya dipantau secara rutin,” imbuhnya.
Pengalaman berinteraksi langsung di kelas juga memberikan tantangan bahasa. Karena literatur dan buku teks di Brunei menggunakan bahasa Inggris, sebagian besar siswa lebih fasih berkomunikasi dalam bahasa Inggris dibanding bahasa Melayu. Selain itu, aturan privasi yang ketat di sekolah menuntutnya untuk ekstra cermat dan beretika saat mengumpulkan data skripsi maupun mengabadikan dokumentasi.

Pengalaman internasional yang telah diselesaikannya ini kini menjadi bekal berharga yang siap ia terapkan dalam dunia perguruan dan riset akademisnya di Indonesia.
“Wawasan dan komparasi yang didapat selama di Brunei menjadi bekal penting untuk memberikan pendekatan mengajar terbaik bagi murid-murid saya kelak,” pungkasnya. (dil/rb)
#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #IKU3 #IKU5 #IKU7
