Ibu Tiada dan Ayah Sakit, Tak Patahkan Semangat David Kejar Mimpi di UTBK 2026

Jember, 23 April 2026

Meski harus berjuang tanpa sosok ibu dan merawat ayahnya yang sedang sakit di tengah himpitan ekonomi, tekad David Julianto untuk kuliah tetap berdiri kokoh.

Di hari ketiga Ujian Tes Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) di Universitas Jember (UNEJ), Kamis (23/04/2026), ia membuktikan bahwa keadaan bukanlah penghalang untuk bermimpi besar. Didorong kecintaan mendalam pada dunia pertanian, David mantap memilih Program Studi Agribisnis dan Agroteknologi UNEJ sebagai gerbang menuju masa depan yang lebih baik.

Langkah kakinya dimulai sejak fajar menyingsing, berangkat penuh optimisme bersama empat sahabat karibnya. David mengaku tidak pernah merasa sendiri, kehadiran guru dan teman-temannya menjadi lentera pendukung yang luar biasa. Baginya, dukungan tulus dari sekolah dan lingkungan sekitar adalah kekuatan utama yang mendorongnya untuk terus melangkah menuju bangku perkuliahan.

β€œSeleksi UTBK membuat saya tidak tenang. Akan tetapi, atas support dari guru dan teman-teman sampai saat ini saya berani menghadapi ujian seleksi UTBK ini. Jadi, guru dan teman-teman saya sudah seperti saudara sendiri yang siap membantu dalam segala hal,” jelasnya.

David Julianto saat melakukan pengecekan kelengkapan data sebagai peserta UTBK SNBT 2026 di Universitas Jember, Kamis (23/04/2026)

Suatu ketika, David pernah merasa putus asa untuk berkuliah. Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, ia selalu memikirkan biaya untuk berkuliah. Namun, salah satu gurunya di pondok pesantren pernah memberikan nasihat yang mampu mengembalikan semangatnya kembali. Tak hanya itu, ia juga pernah berpikir untuk mengundurkan diri dari UTBK 2026, karena ia terlambat mendaftar beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K).

β€œAwalnya saya masih bimbang untuk kuliah. Tapi saya masih ingat kata-kata dari guru saya bahwa meskipun tidak ada biaya jalanin dulu insyaallah Allah akan membantu. Saya juga kemarin sempat terlambat ikut beasiswa KIP-K karena terlambat,” ungkapnya.

Lebih lanjut, David mengungkapkan bahwa ia telah menyusun rencana matang untuk masa depannya. Demi menunjang kebutuhan ekonomi selama kuliah, ia berharap dapat memperoleh beasiswa. Namun, David menegaskan tidak ingin hanya berpangku tangan pada bantuan tersebut. Jika kesempatan beasiswa belum berpihak padanya, ia berkomitmen untuk tetap berjuang dengan mencari peluang lain, termasuk bekerja sambil berkuliah.

David Julianto peserta UTBK SNBT 2026 di Universitas Jember, Kamis (23/04/2026)

β€œSaya ingin mendapatkan beasiswa untuk membantu biaya kuliah saya nantinya. Tapi, jika tidak mendapatkannya saya akan bekerja dan berkuliah,” imbuhnya.

Bagi David, kuliah adalah investasi besar bagi masa depan. Ia membawa misi tulus untuk mengangkat derajat keluarga dan membahagiakan orang tuanya, meski di tengah himpitan ekonomi. Ia meyakini sepenuhnya bahwa pendidikan adalah jembatan utama untuk mengubah nasib dan membentuk pribadi yang sukses di masa depan.

Meski banyak peserta UTBK lain datang didampingi orang tua, David mengaku tak sedikit pun merasa kecil hati. Baginya, situasi ini adalah tempaan takdir untuk membentuk kemandiriannya sejak dini. Di balik kesendirian tanpa orang tua, ia menemukan kehangatan dari para sahabat yang tak pernah absen memberikan dukungan.

David bersama teman-temannya usai mengikuti UTBK SNBT 2026 di Universitas Jember, Kamis (23/04/2026)

β€œSaya tidak insecure dan tidak iri dengan yang lain, karena itu sudah menjadi takdir saya agar menjadi mandiri. Saya rasa adanya teman-teman saya saat ini sudah cukup untuk mendukung dan menemani saya saat UTBK,” pungkasnya.

Kisah David Julianto menjadi pengingat nyata bahwa keterbatasan ekonomi dan sosial bukanlah batas akhir untuk mengejar mimpi di bangku kuliah. (dil/rb)

#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #IKU1