Jember, 11 Juni 2026
Sastra tidak hanya menghadirkan cerita, tetapi juga menjadi medium untuk menghidupkan kembali suara-suara yang kerap terpinggirkan dalam sejarah.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Diskusi Publik dan Refleksi Kritis buku Dari Dalam Kubur karya Soe Tjen Marching yang digelar oleh Pusat Studi Gender (PSG) Universitas Jember bekerja sama dengan Program Studi Magister Linguistik Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember dan Penerbit Marjin Kiri pada Kamis (11/6) di Aula FIB UNEJ.Kegiatan ini menghadirkan langsung Soe Tjen Marching sebagai penulis, Dwi Pranoto dari Marjin Kiri, serta akademisi dan mahasiswa untuk mendiskusikan proses kreatif di balik novel tersebut sekaligus membahas peran sastra dalam menyuarakan pengalaman kelompok yang kerap terabaikan dalam sejarah.

Rektor Universitas Jember, Iwan Taruna, mengapresiasi PSG UNEJ, Fakultas Ilmu Budaya, dan Penerbit Marjin Kiri yang menghadirkan ruang dialog akademik mengenai kemanusiaan, sejarah, dan keadilan sosial. Menurutnya, kehadiran Soe Tjen Marching menjadi kesempatan berharga bagi sivitas akademika untuk memperkaya perspektif sekaligus meneguhkan peran kampus sebagai ruang dialog berbagai gagasan secara kritis dan terbuka.
“Perguruan tinggi seperti UNEJ tidak hanya menghasilkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang dialog tempat berbagai gagasan bertemu, diuji, dan diperkaya. Kemajuan lahir dari keterbukaan untuk membaca, mendengar, dan mendiskusikan berbagai perspektif secara kritis dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Menurut Iwan Taruna, buku merupakan media untuk memahami pengalaman manusia sekaligus merekam ingatan kolektif. Karena itu, tradisi akademik menuntut setiap gagasan dipahami secara utuh dan dikaji secara kritis dengan tetap menjunjung objektivitas, argumentasi ilmiah, dan etika akademik. Ia menegaskan bahwa UNEJ terus berkomitmen mengembangkan budaya literasi, riset, dan dialog akademik yang terbuka sebagai ruang tumbuhnya pemikiran kritis, empati, dan kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan.
“Membaca sejarah dari berbagai perspektif bukan untuk memperpanjang perbedaan, tetapi untuk memperkaya pemahaman kita sebagai bangsa yang satu,” pungkasnya.

Dalam pemaparannya, Soe Tjen Marching menjelaskan bahwa novel Dari Dalam Kubur berawal dari penelitian yang semula dirancang sebagai buku akademik. Namun, perjumpaannya dengan kisah seorang perempuan narasumber mendorongnya memilih jalur fiksi untuk menyampaikan pengalaman dan realitas yang ditemuinya.
Ia juga mengungkapkan bahwa banyak pembaca mengaitkan judul Dari Dalam Kubur dengan film Bernafas dalam Kubur. Meski tidak menampik kemungkinan adanya pengaruh tersebut, ia menegaskan bahwa judul novel itu terinspirasi dari ungkapan dalam karya Tan Malaka yang dianggap paling sesuai merepresentasikan isi cerita.
“Tentang Dari Dalam Kubur, memang banyak yang bertanya apakah ada kaitannya dengan film Suzanna. Saya sampaikan mungkin ada. Karena saya terinspirasi dari karya Tan Malaka yang berkata ‘dari dalam kubur’ dan saya merasa ini pas dengan novel saya,” ujarnya.
Menurut Soe Tjen Marching, sastra memiliki kekuatan yang kerap diremehkan. Ia menyoroti bagaimana ilmu sosial, humaniora, dan linguistik sering dipandang sebelah mata di Indonesia, padahal bidang-bidang tersebut memiliki kemampuan besar untuk mempengaruhi cara pandang masyarakat melalui bahasa dan tulisan.
Sebagai contoh, ia menyinggung tulisan Ki Hajar Dewantara berjudul Seandainya Aku Seorang Belanda yang memicu kemarahan pemerintah kolonial hingga berujung pada pengasingan sang penulis. Baginya, peristiwa tersebut menunjukkan bahwa bahasa dan tulisan dapat menjadi instrumen perubahan sosial yang nyata.
“Dulu yang bisa menggoncangkan Belanda itu dari tulisan. Oleh karena itu, kita perlu belajar linguistik dan memahami kekuatan bahasa. Contohnya tulisan Ki Hajar Dewantara yang berjudul Seandainya Aku Seorang Belanda yang berhasil membuat pemerintah kolonial gonjang-ganjing,” imbuhnya.
Ia menambahkan bahwa sejarah telah menunjukkan bagaimana karya sastra mampu mendorong perubahan sosial dan kesadaran politik. Selain tulisan Ki Hajar Dewantara, novel Max Havelaar karya Multatuli menjadi contoh bagaimana sebuah karya fiksi dapat membuka mata masyarakat Belanda terhadap praktik kolonial yang terjadi di Hindia Belanda.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Dwi Pranoto dari Marjin Kiri. Ia menilai “Dari Dalam Kubur” berhasil mengangkat isu gender dan etnis melalui pendekatan fiksi. Menurutnya, kekuatan fiksi terletak pada kemampuannya menyusun berbagai peristiwa dalam hubungan sebab-akibat yang utuh sehingga menghadirkan pemahaman yang lebih mendalam bagi pembaca. Mengutip Aristoteles, ia menyebut fiksi lebih filosofis daripada sejarah karena mampu menggambarkan berbagai kemungkinan yang lahir dari hubungan kausal antarkeadaan.
“Secara informatif, persoalan kolonial sudah banyak dibahas melalui pamflet atau pidato. Tetapi ketika dituliskan dalam bentuk fiksi seperti Max Havelaar, dampaknya justru jauh lebih besar dan mampu mengubah cara pandang masyarakat Belanda,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Pusat Studi Gender (PSG) UNEJ, Dr. Linda Dwi Eriyanti, S.Sos., M.A., menyoroti bahwa perempuan masih kerap menghadapi konstruksi sosial yang membatasi ruang geraknya, termasuk di lingkungan akademik dan birokrasi. Menurutnya, tidak ada definisi tunggal tentang feminisme yang paling benar. Yang terpenting adalah memahami konteks, menyadari pilihan yang dimiliki, serta berani mengambil kebebasan ketika kesempatan itu hadir.
“Kalau merasa memiliki ruang untuk terbebas dari stereotipe, maka lakukanlah,” ujarnya.

Melalui diskusi ini, para peserta diajak melihat sastra tidak sekadar sebagai karya artistik, melainkan juga sebagai medium refleksi kritis yang mampu menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang kerap terpinggirkan dari narasi besar sejarah. Dengan demikian, sastra dapat menjadi ruang untuk memahami kemanusiaan sekaligus mendorong lahirnya kesadaran sosial yang lebih luas.(qf/rb)

