Jember, 16 Juni 2026
Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh sivitas akademika Universitas Jember (UNEJ).
Salah satu wakil terbaiknya, Prof. Dr. Ir. Soetriono, M.P., Guru Besar dan dosen Fakultas Pertanian UNEJ, berhasil meraih Juara II pada Kejuaraan Nasional Asosiasi Tenis Profesor Indonesia (ATPI) yang diselenggarakan di Universitas Pendidikan Ganesha (UNDIKSHA), Bali, pada 11β14 Juni 2026.Kejuaraan yang mempertemukan para profesor dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia tersebut menjadi ajang untuk mempererat silaturahmi sekaligus menunjukkan bahwa kalangan akademisi juga memiliki semangat tinggi dalam menjaga kebugaran dan sportivitas melalui olahraga. Dalam kompetisi yang berlangsung sengit dan penuh persaingan, Prof. Soetriono mampu menunjukkan performa terbaiknya hingga berhasil menempati posisi kedua di tingkat nasional.
Perjalanan menuju podium Juara II pun tidak diraih dengan mudah. Berpasangan dengan Prof. Dr. Unggul Priyadi dari Universitas Islam Indonesia (UII), Prof. Soetriono harus menghadapi sederet lawan tangguh dari berbagai perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. Pada babak awal, pasangan ini sukses mengatasi perlawanan Prof. Masrukhi dan Prof. Harlanu dengan skor 8-4, sebelum kembali menunjukkan konsistensi dengan menaklukkan pasangan Prof. Kodirun dan Prof. Dr. Busnawir, M.Pd. dengan skor 8-5. Kemenangan demi kemenangan tersebut mengantarkan keduanya melaju hingga partai final.
Di babak penentuan, pasangan SoetrionoβUnggul menghadapi duet kuat Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Prof. Agus Hariyanto, M.Kes. dan Prof. Advendi Kristiyandaru. Meski harus mengakui keunggulan lawan dan finis sebagai runner-up nasional, perjuangan mereka menjadi bukti bahwa semangat pantang menyerah, kerja sama, dan pengalaman mampu membawa nama Universitas Jember bersaing di level tertinggi.
Prestasi ini tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga mengharumkan nama Universitas Jember di tingkat nasional. Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa seorang akademisi dapat terus berprestasi, baik dalam pengembangan ilmu pengetahuan maupun dalam aktivitas nonakademik yang mendukung kualitas hidup sehat dan produktif.
Baginya, tenis bukan sekadar olahraga, melainkan media untuk membangun karakter, menjaga kesehatan, sekaligus memperluas jejaring profesional antarsesama akademisi di Indonesia. Melalui kegiatan seperti ATPI, para profesor memiliki ruang untuk saling bertukar gagasan dan memperkuat kolaborasi lintas institusi dalam suasana yang lebih akrab dan penuh semangat persahabatan.
βSaya meyakini bahwa menjaga kesehatan adalah investasi penting bagi setiap akademisi agar tetap mampu berkarya dan memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat. Melalui olahraga tenis, saya tidak hanya melatih kebugaran fisik, tetapi juga membangun semangat disiplin, sportivitas, dan persaudaraan dengan rekan-rekan profesor dari berbagai perguruan tinggi. Hubungan baik yang terjalin melalui kegiatan seperti ini pada akhirnya juga akan memperkuat kolaborasi antarlembaga demi kemajuan pendidikan tinggi di Indonesia. Saya berharap semakin banyak sivitas akademika yang menjadikan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup sehingga tetap sehat, produktif, dan mampu menginspirasi generasi muda,β ujarnya.
Ia menambahkan, pencapaian tersebut menjadi motivasi untuk terus aktif berolahraga di tengah kesibukan sebagai pendidik dan peneliti. Konsistensi dalam menjaga kebugaran diyakininya mampu meningkatkan kualitas kerja, memperpanjang produktivitas, serta memberikan teladan positif bagi mahasiswa maupun masyarakat luas.
Keikutsertaannya dalam ajang nasional ATPI sekaligus mencerminkan komitmennya dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia yang unggul, tidak hanya dari aspek akademik, tetapi juga kesehatan, karakter, dan jejaring kolaborasi. Prestasi yang diraihnya diharapkan menjadi inspirasi bagi seluruh sivitas akademika untuk terus mengembangkan potensi diri, menjaga pola hidup sehat, serta membawa nama baik institusi melalui berbagai bidang prestasi.

Ke depan, Prof. Dr. Ir. Soetriono, M.P. optimistis semakin banyak dosen dan guru besar yang mampu menunjukkan kiprah positif di tingkat nasional maupun internasional. Menurutnya, semangat berprestasi yang berpadu dengan budaya hidup sehat, sportivitas, dan kolaborasi akan menjadi modal penting dalam mewujudkan perguruan tinggi yang unggul, berdaya saing, serta memberikan manfaat nyata bagi bangsa dan negara. Prestasi ini sekaligus menjadi inspirasi bahwa seorang akademisi tidak hanya dituntut unggul dalam tridarma perguruan tinggi, tetapi juga mampu menjadi teladan dalam membangun gaya hidup sehat dan memperkuat jejaring persahabatan yang berdampak positif bagi kemajuan institusi.(is)



