Jember, 7 Agustus 2026
Berani melangkah keluar dari zona nyaman menjadi titik awal perjalanan Gayatri Alifia Salsabilla, mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Hukum, Fakultas Hukum (FH), Universitas Jember (UNEJ) angkatan 2023, hingga berhasil mengharumkan nama Indonesia di ajang International Youth Exchange.
Melalui program kepemudaan internasional tersebut, Gayatri mengikuti dua kompetisi bergengsi, yakni International Conference dan SDGs Project. Dari rangkaian kegiatan itu, ia berhasil menyabet tiga penghargaan sekaligus, yaitu The Best Diplomacy, 2nd SDG’S Ambassador, serta The Best Solution of SDG’S Project.Seluruh delegasi diwajibkan menyusun position paper sebagai bekal mengikuti konferensi internasional. Dalam waktu sekitar satu minggu sebelum keberangkatan, Gayatri menyiapkan kajian mengenai “Migration and Unequal Access to Economic Opportunities Amid Global Economic Crisis”, dengan berperan sebagai delegasi Malaysia. Menurut Gayatri, sebagian besar delegasi dalam forum konferensi lebih banyak menyoroti dampak keberadaan imigran bagi negara tujuan. Sementara itu, ia memilih mengarahkan pembahasan pada perlindungan hak-hak pekerja migran yang terdampak krisis ekonomi global.

Strategi tersebut membawanya aktif membangun koalisi antarnegara. Ia menginisiasi kerja sama dengan beberapa negara ASEAN, seperti Singapura, Thailand, dan Filipina, kemudian memperluas dukungan dengan menggandeng Jepang yang dinilai memiliki visi serupa. Koalisi enam negara itu kemudian berhasil menyusun enam resolusi yang dipresentasikan dalam sidang internasional. Melalui kemampuan membangun konsensus inilah yang akhirnya mengantarkan Gayatri meraih penghargaan The Best Diplomacy.
Tak berhenti disitu, Gayatri kemudian mengikuti kompetisi SDG’S Project bersama dua peserta lainnya. Timnya mengangkat isu limbah minyak jelantah yang dikaitkan dengan SDG’S nomor 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab serta SDGs nomor 14 mengenai ekosistem laut.
Berangkat dari persoalan limbah rumah tangga yang berpotensi mencemari perairan sekaligus menyumbat saluran drainase, mereka menawarkan solusi berupa pelatihan pembuatan sabun batang berbahan dasar minyak jelantah. Inovasi tersebut tidak hanya berfokus pada pengurangan limbah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Sasaran utama program ini adalah ibu rumah tangga dan pelaku usaha kecil yang sehari-hari menggunakan minyak goreng dalam jumlah besar.

Presentasi solusi tersebut berhasil memikat dewan juri hingga dinobatkan sebagai The Best Solution of SDG’S Project. Selain itu, atas kontribusinya dalam mengampanyekan pembangunan berkelanjutan, Gayatri juga dinobatkan sebagai 2nd SDG’S Ambassador. Di balik capaian tersebut, Gayatri mengaku tantangan terbesar justru datang dari padatnya aktivitas selama program berlangsung. Selain mengikuti kompetisi, para peserta juga melakukan kunjungan ke berbagai institusi seperti National University of Singapore (NUS), Nanyang Technological University (NTU), hingga Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur.
“Jarak antar lokasi cukup jauh sehingga kami benar-benar harus siap berjalan kaki. Jadwalnya juga sangat padat karena selain kompetisi kami juga mengeksplorasi banyak tempat. Kalau menurut saya, durasi dua minggu akan lebih ideal dibanding hanya satu minggu,” jelasnya.
Pengalaman lain yang cukup berkesan adalah ketika mencari makanan halal selama berada di Malaysia. Karena lokasi penginapannya berada di kawasan pinggiran Kuala Lumpur, pilihan makanan halal tidak sebanyak di pusat kota, sehingga ia bersama rekan-rekannya lebih sering membeli makanan di minimarket.

Kini, sebagai SDG’S Ambassador, Gayatri ingin membawa manfaat dari pengalaman internasional tersebut ke lingkungan sekitar. Bertepatan dengan pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN), ia berencana mengimplementasikan proyek pengolahan minyak jelantah di desa lokasi pengabdiannya. Selain itu, ia juga ingin meningkatkan literasi mengenai Sustainable Development Goals (SDGs) di kalangan mahasiswa. Menurutnya, pemahaman tentang isu pembangunan berkelanjutan masih perlu diperluas, termasuk melalui media sosial maupun kegiatan kemahasiswaan.
Bagi Gayatri, keikutsertaannya dalam program yang diselenggarakan pada 6-10 Juli 2026 bukan semata-mata mengejar prestasi. Ia mengaku ingin membuktikan bahwa ia mampu bersaing di tingkat internasional. Tak lupa, Gayatri berpesan agar mahasiswa tidak takut mengambil peluang yang ada, meski harus keluar dari zona nyaman.
“Jangan pernah takut mencoba. Kalau tidak dicoba, kita tidak akan pernah tahu hasilnya, bagaimana rasanya, dan bagaimana dampaknya bagi kehidupan kita. Kesempatan itu bukan untuk ditunggu, tetapi dicari dan diambil ketika datang. Selalu tanyakan pada diri sendiri, ‘Kalau bukan sekarang, kapan lagi?'” pungkasnya. (dil/rb)
#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #IKU3
