Dari Limbah Sapi Menjadi Aset Pertanian, Mahasiswa UNEJ Bangun Model Ekonomi Sirkular di Desa Sukogidri

Jember, 31 Agustus 2026

Apa yang selama ini dianggap sebagai limbah justru menjadi pintu masuk bagi pertanian berkelanjutan di Desa Sukogidri, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember.

Melalui Program Mahasiswa Berdesa (PROMAHADESA), 10 mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) bersama masyarakat dan kelompok tani mengubah kotoran sapi menjadi Pupuk Organik Padat (POP), mengaplikasikannya pada lahan pertanian, hingga menggunakannya sebagai input dalam budidaya tanaman okra.

Inisiatif tersebut menawarkan pendekatan sederhana namun strategis, mengembalikan limbah peternakan ke dalam siklus produksi pertanian. Kotoran sapi yang tersedia di lingkungan desa tidak lagi semata dipandang sebagai persoalan yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber bahan organik yang dapat diolah dan dimanfaatkan kembali.

Desa Sukogidri memiliki wilayah sekitar 363,337 hektare yang terbagi menjadi tiga dusun. Sebagian besar masyarakatnya menggantungkan mata pencaharian pada sektor pertanian, sementara peternakan sapi menjadi salah satu aktivitas ekonomi pendukung. Pertemuan antara dua sektor tersebut menciptakan potensi besar untuk membangun siklus pertanian berbasis sumber daya lokal.

Ketua Tim PROMAHADESA UNEJ Desa Sukogidri, Annufus Ilannajah, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNEJ, mengatakan program tersebut berangkat dari gagasan yaitu penyelesaian persoalan desa harus dimulai dari potensi yang telah dimiliki masyarakat.

“Kami tidak ingin membawa masyarakat pada ketergantungan terhadap solusi dari luar. Justru kami melihat apa yang sudah tersedia di desa dan bagaimana potensi itu dapat diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna. Kotoran sapi merupakan salah satu sumber daya yang selama ini tersedia, sehingga kami mencoba mengubahnya menjadi POP yang dapat kembali dimanfaatkan untuk pertanian,” ujarnya.

Bersama masyarakat dan Ketua Kelompok Tani Desa Sukogidri, mahasiswa mengidentifikasi bahan-bahan organik yang tersedia di lingkungan sekitar. Kotoran sapi kemudian dipadukan dengan gedebok pisang, daun kering, dedak padi, dan jerami. Bahan-bahan tersebut dicampurkan, disusun, dan menjalani proses pengomposan dengan pembalikan secara berkala hingga menghasilkan POP yang matang dan siap digunakan.

“Pada program ini, masyarakat tidak ditempatkan sebagai penerima manfaat pasif. Mereka kami terlibat langsung dalam seluruh proses, mulai dari persiapan bahan, pembuatan pupuk, pemanenan, hingga pengaplikasian POP pada lahan pertanian,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan, setelah POP siap digunakan maka dilanjutkan dengan penanaman okra. Tahapan ini memperlihatkan sebuah siklus sederhana, limbah peternakan diolah menjadi pupuk, pupuk dikembalikan ke tanah, dan tanah dimanfaatkan untuk menghasilkan produk pertanian.

Dosen pembimbing PROMAHADESA UNEJ, Bayu Aprillianto, S.E., M.Akun., CSP., menilai pendekatan tersebut memiliki nilai penting sebab, menghubungkan aspek lingkungan, pertanian, pemberdayaan masyarakat, dan pemanfaatan sumber daya lokal dalam satu rangkaian kegiatan.

“Yang kami bangun bukan hanya keterampilan membuat pupuk. Lebih jauh, kami ingin masyarakat melihat hubungan antara limbah, sumber daya, dan produksi. Ketika kotoran sapi dapat diolah menjadi POP kemudian dikembalikan ke lahan pertanian, terbentuk sebuah siklus pemanfaatan sumber daya yang lebih berkelanjutan,” jelasnya.

Ia menambahkan, keberhasilan program tidak hanya diukur dari berapa banyak POP yang dihasilkan, tetapi dari sejauh mana masyarakat mampu melanjutkan praktik tersebut secara mandiri.

“Mahasiswa pada akhirnya akan meninggalkan lokasi program. Karena itu, indikator pentingnya adalah apakah pengetahuan dan keterampilan yang ditransfer dapat terus dijalankan masyarakat. Inilah makna pemberdayaan yang sebenarnya,” katanya.

Program ini menurutnya, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam menghadirkan inovasi yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Alih-alih menghadirkan teknologi yang mahal dan sulit diterapkan, PROMAHADESA Sukogidri mengembangkan inovasi berbasis bahan yang tersedia di lingkungan masyarakat.

“Kegiatan PROMAHADESA UNEJ di Desa Sukogidri berlangsung pada Juli hingga Oktober 2026. Kolaborasi antara 10 mahasiswa, masyarakat, dan kelompok tani diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan program, tetapi berkembang menjadi praktik pengelolaan limbah peternakan dan pemanfaatan POP yang dapat dilakukan secara mandiri,” imbuhnya.

Melalui semangat “Bergerak Bersama, Ekonomi Berdaya,” PROMAHADESA Sukogidri UNEJ membawa pesan sederhana dengan relevansi yang luas, ketika limbah dikelola sebagai sumber daya, persoalan lingkungan dapat berubah menjadi peluang bagi pertanian dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.(is)