Bukan Sekadar Sayuran, Mahasiswa UNEJ Ubah Okra Menjadi “Kopi” Bernilai Ekonomi

Jember, 31 Agustus 2026

Okra selama ini lebih dikenal sebagai sayuran yang dikonsumsi dalam bentuk segar.

Namun, mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) melihat komoditas tersebut dari perspektif berbeda. Melalui Program Mahasiswa Berdesa (PROMAHADESA), 10 mahasiswa mengembangkan inovasi pengolahan okra menjadi produk minuman yang diperkenalkan sebagai kopi okra, sekaligus membuka peluang baru bagi masyarakat untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian lokal.

Inovasi tersebut dikembangkan melalui kegiatan pengabdian masyarakat yang melibatkan mahasiswa dan masyarakat secara partisipatif. Tidak berhenti pada pengenalan produk, mahasiswa mendampingi masyarakat mulai dari persiapan bahan, proses pengolahan okra, hingga menghasilkan produk kopi okra yang selanjutnya berpotensi dikembangkan melalui penguatan kemasan, identitas produk, dan strategi pemasaran.

Ketua Tim PROMAHADESA UNEJ, Annufus Ilannajah, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNEJ, mengatakan inovasi kopi okra berangkat dari upaya melihat komoditas pertanian lokal dari sudut pandang yang lebih luas.

“Kami mencoba mengubah cara pandang terhadap okra. Selama ini okra lebih banyak dijual atau dikonsumsi sebagai sayuran segar. Padahal, dengan pengolahan dan inovasi, komoditas lokal dapat dikembangkan menjadi produk dengan bentuk dan nilai ekonomi yang berbeda. Kopi okra menjadi salah satu eksperimen kami untuk menunjukkan bahwa potensi pertanian lokal masih dapat dikembangkan lebih jauh,” ujarnya.

Menurutnya, proses pengembangan produk ini juga menjadi sarana pembelajaran bagi masyarakat. Masyarakat tidak hanya diperkenalkan pada hasil akhir, tetapi dilibatkan dalam proses produksi sehingga memiliki pengalaman langsung mengenai bagaimana sebuah komoditas pertanian dapat diolah menjadi produk baru.

“Target kami bukan sekadar menghasilkan produk selama mahasiswa berada di desa. Yang lebih penting adalah masyarakat memahami prosesnya dan memiliki kemampuan untuk mengembangkan produk tersebut setelah program selesai,” tambahnya.

Pengembangan kopi okra sekaligus membawa gagasan diversifikasi produk pertanian. Ketika komoditas tidak hanya dipasarkan dalam bentuk segar, terdapat peluang untuk memperpanjang rantai nilai melalui pengolahan, pengemasan, penciptaan identitas produk, hingga pemasaran.

Sementara itu, Dosen pembimbing PROMAHADESA UNEJ, Bayu Aprillianto, S.E., M.Akun., CSP., mengatakan, inovasi ini merupakan contoh bagaimana kegiatan pengabdian dapat menghubungkan potensi pertanian dengan pengembangan kewirausahaan masyarakat.

“Nilai sebuah komoditas tidak berhenti pada hasil panen. Tantangannya adalah bagaimana hasil pertanian dapat diolah, dikemas, dan diposisikan menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Di sinilah mahasiswa dapat berperan sebagai penghubung antara pengetahuan akademik, kreativitas, dan potensi yang dimiliki masyarakat,” jelasnya.

Ia menambahkan, keberlanjutan inovasi perlu didukung dengan pengembangan aspek nonproduksi, terutama kualitas produk, konsistensi proses, kemasan, identitas merek, serta strategi pemasaran.

“Kopi okra masih merupakan titik awal. Setelah produk terbentuk, tahap berikutnya memastikan kualitasnya konsisten, memahami penerimaan konsumen, memperkuat branding, dan melihat model bisnis yang realistis. Dengan pendekatan tersebut, inovasi tidak berhenti sebagai produk pengabdian, tetapi memiliki peluang untuk berkembang menjadi aktivitas ekonomi masyarakat,” imbuhnya.

Masih kata Bayu, kegiatan ini juga menurutnya adalah bagian dari pengabdian masyarakat dapat menjadi ruang kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat dalam menciptakan inovasi berbasis potensi lokal. Mahasiswa memperoleh pengalaman menerapkan pengetahuan secara langsung, sementara masyarakat mendapatkan pengetahuan dan keterampilan baru yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan.

“Inovasi kopi okra menjadi bagian dari upaya mendorong diversifikasi hasil pertanian dan memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengembangkan produk berbasis sumber daya lokal. Produk tersebut masih memiliki ruang pengembangan, baik dari sisi formulasi, kemasan, identitas produk, maupun strategi pemasaran agar mampu menjangkau konsumen yang lebih luas.” pungkasnya.

Program PROMAHADESA UNEJ yang dipimpin Annufus Ilannajah dengan pendampingan Bayu Aprillianto tersebut dilaksanakan pada Juli hingga Oktober 2026. Melalui pendekatan partisipatif, pengembangan kopi okra diharapkan dapat menjadi embrio inovasi produk lokal yang tidak hanya menawarkan alternatif pemanfaatan komoditas pertanian, tetapi juga membuka peluang penguatan ekonomi masyarakat.

Dari komoditas yang selama ini identik dengan sayuran, mahasiswa UNEJ mencoba membuka kemungkinan baru: okra tidak hanya dipanen untuk dijual, tetapi diolah, diberi nilai tambah, dan diperkenalkan kepada konsumen dalam bentuk produk yang sama sekali berbeda.(is)