Jember, 15 September 2026
Menjadi Liaison Officer (LO) selama PEKSIMINAS XVIII Tahun 2026 menghadirkan pengalaman tersendiri bagi mahasiswa Universitas Jember (UNEJ).
Tugas mereka tidak sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga memastikan kebutuhan kontingen dan juri selama berada di Jember dapat terlayani. Di balik tugas tersebut, terselip beragam cerita, mulai dari mengejar bus kontingen pada malam terakhir hingga mengatur mobilitas para juri selama perlombaan.Dua di antaranya dialami oleh Afrisha Arvella Br Ginting dan Ade Pandu Putra Anugrah, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNEJ. Afrisha bertugas sebagai LO Kontingen Sumatera Barat sekaligus menjadi MC pembukaan dan penutupan, sedangkan Ade dipercaya sebagai Koordinator Lapangan (Korlap) LO Juri.
Bagi Afrisha, tugas sebagai LO bahkan telah dimulai sebelum kontingen tiba di Jember. Mahasiswa semester tujuh Program Studi Hubungan Internasional itu membantu kebutuhan informasi hingga penginapan. Ketika keberangkatan Kontingen Sumatera Barat yang sebelumnya terdampak erupsi gunung akhirnya dapat dilanjutkan, ia bahkan harus mencari kembali kamar hotel pada dini hari.

“Saya sempat survei 11 kamar hotel sekitar pukul satu pagi. Sebelumnya hotel untuk Sumatera Barat sempat dibatalkan karena keberangkatan mereka terdampak letusan gunung. Ternyata mereka jadi berangkat dan membutuhkan hotel. Puji Tuhan, akhirnya kamar tersedia dan kami bisa bertemu,” cerita Afrisha.
Setelah kontingen tiba, Afrisha mendampingi proses registrasi, mengenalkan lokasi perlombaan, menyampaikan informasi penting, hingga memberikan dukungan selama peserta tampil. Kesibukan itu harus ia bagi dengan persiapan sebagai MC pembukaan dan penutupan. Bersama rekan LO-nya, Afrisha berbagi tugas agar kebutuhan kontingen tetap terlayani ketika dirinya harus berada di panggung.
Salah satu momen yang paling membekas justru terjadi pada malam terakhir. Usai menjadi MC penutupan, Afrisha yang masih mengenakan sepatu hak tinggi sekitar 10 sentimeter bergegas mengejar bus Kontingen Sumatera Barat untuk berpamitan dan mendapatkan satu foto terakhir bersama mereka.
“Rasanya sedih dan terharu. Meski pertemuan ini singkat, ada rasa kekeluargaan dan syukur karena bisa bertemu. Sebagai LO, saya memang sudah seharusnya memberikan pelayanan terbaik, tetapi ternyata mereka juga melakukan hal yang sama kepada saya,” tuturnya.

Sementara itu, Ade Pandu Putra Anugrah memiliki cerita berbeda. Mahasiswa semester lima Program Studi D3 Usaha Perjalanan Wisata itu awalnya bertugas sebagai LO juri tangkai Menyanyi Pop, sebelum kemudian dipercaya menjadi Korlap LO Juri. Ia bertugas menjadi penghubung antara panitia dan juri sekaligus mengatur penjemputan serta mobilitas juri selama kegiatan.
Menurut Ade, salah satu tantangannya adalah menyesuaikan jadwal kendaraan dengan waktu persiapan masing-masing juri. Beberapa kali terdapat juri yang tertinggal kendaraan di penginapan sehingga ia harus segera berkoordinasi kembali dengan pengemudi.
“Kalau kendaraan masih dekat bisa kembali lagi ke hotel. Kalau sudah jauh, kami arahkan untuk mengantar juri yang sudah dijemput ke Universitas Jember terlebih dahulu, kemudian kembali menjemput di penginapan,” jelas Ade.
Di balik kesibukan tersebut, Ade justru mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dengan para juri dari kalangan akademisi hingga praktisi seni. Baginya, pengalaman itu memberikan pelajaran mengenai pentingnya komunikasi dan koordinasi, sekaligus cara berinteraksi dengan tetap menjaga kesopanan dan penghormatan kepada juri yang didampingi.

“Saya sangat senang karena bisa bertukar cerita dan pengalaman. Bagi saya, kesempatan bertemu, berkomunikasi, dan belajar langsung dari para juri menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan,” katanya.
Pengalaman Afrisha dan Ade menjadi bagian dari cerita di balik penyelenggaraan PEKSIMINAS XVIII di Universitas Jember. Seperti halnya sebuah perhelatan besar, ada banyak peran yang bekerja di balik layar untuk mendukung jalannya kegiatan. Bagi Afrisha dan Ade, menjalani peran sebagai LO tidak hanya memberi pengalaman mendampingi kontingen dan juri, tetapi juga menjadi ruang untuk belajar berkomunikasi, beradaptasi, dan membangun relasi dengan orang-orang yang mereka temu. (qf)
