Inovasi PKM-PI Hadirkan Fermentor Pintar Berbasis Fotovoltaik, Solusi Tingkatkan Kualitas Produksi Terasi Ramah Lingkungan

Jember, 13 Agustus 2026

Berangkat dari persoalan yang kerap dihadapi pelaku usaha pengolahan terasi, tim Program Kreativitas Mahasiswa Penerapan Iptek (PKM-PI) yang beranggotakan Sozia Dikria Aulina Amahera (Proteksi Tanaman), Ezra Immanuel Nugroho (Teknik Mesin), Muhammad Naufal Zuhdi (Teknik Mesin), Randi Ageng Satrio (Teknik Elektro), dan Mochammad Rangga Ramadhani (Teknik Mesin) mengembangkan fermentor pintar berbasis sistem fotovoltaik sebagai solusi untuk meningkatkan kualitas proses fermentasi sekaligus mendukung produksi yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Inovasi tersebut berawal dari tingginya risiko kegagalan fermentasi akibat kontaminasi mikroorganisme yang menyebabkan produk membusuk sehingga tidak dapat dipasarkan maupun diproses lebih lanjut.

Kondisi ini tidak hanya menurunkan kualitas hasil produksi, tetapi juga mengakibatkan kerugian bagi pelaku usaha. Melalui fermentor pintar, tim menghadirkan sistem yang mampu menjaga proses fermentasi tetap steril, mempercepat waktu produksi, serta menghasilkan terasi dengan kualitas dan daya simpan yang lebih baik.

Penerapan Inovasi PKM-PI di Industri Terasi Udang Desa Puger Jember

Keunggulan utama inovasi ini terletak pada pemanfaatan energi surya melalui sistem fotovoltaik sebagai sumber daya utama fermentor. Cara kerjanya dimulai ketika panel surya (photovoltaic) mengubah energi cahaya matahari menjadi energi listrik arus searah (direct current/DC). Listrik tersebut kemudian diatur oleh solar charge controller untuk mengoptimalkan proses pengisian sekaligus melindungi baterai dari kondisi overcharging maupun overdischarging. Energi yang tersimpan di dalam baterai selanjutnya dialirkan ke sistem kontrol yang terdiri atas mikrokontroler, sensor suhu, dan sensor kelembapan sehingga kondisi fermentasi dapat dipantau dan dikendalikan secara otomatis.

“Sebagian besar UMKM pengolahan terasi berada di wilayah pesisir yang memiliki potensi sinar matahari melimpah. Kami tidak hanya ingin menciptakan alat yang mampu menjaga kualitas fermentasi, tetapi juga teknologi yang benar-benar relevan dengan kebutuhan pelaku UMKM. Melalui pemanfaatan energi surya, fermentor dapat beroperasi secara mandiri dengan biaya operasional yang lebih rendah, sehingga lebih mudah diterapkan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat,” jelas Sozia.

Dalam proses pengembangannya sejak bulan Juni lalu, tim menghadapi tantangan berupa ketergantungan alat terhadap sinar matahari. Kondisi cuaca yang kurang mendukung berpotensi menghambat kerja fermentor. Untuk mengatasi hal tersebut, tim mengintegrasikan sistem penyimpanan energi menggunakan baterai sehingga energi yang dihasilkan panel surya dapat disimpan dan dimanfaatkan saat sinar matahari tidak tersedia. Inovasi ini membuat fermentor tetap dapat beroperasi secara optimal meskipun cuaca mendung maupun pada malam hari. Hasil ini akan terus dioptimalkan hingga Desember 2026 nanti.

Fermentor pintar juga membantu meminimalkan risiko kontaminasi mikroorganisme yang selama ini menjadi penyebab utama kegagalan fermentasi. Hasilnya, produk terasi memiliki kualitas yang lebih konsisten, masa simpan lebih panjang, serta berpotensi meningkatkan nilai ekonomi bagi pelaku usaha. Efektivitas fermentor pintar tersebut telah dibuktikan melalui penerapannya pada industri terasi milik Bu Sunariyah di Desa Puger, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember pada 1 Agustus 2026.

Bentuk Fermentator Pintar Berbasis Fotovoltaik

“Kami berharap inovasi ini tidak berhenti sebagai luaran PKM, tetapi dapat menjadi solusi yang bermanfaat. Ketika teknologi mampu menjawab kebutuhan di lapangan, maka dampaknya bukan hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga mendorong terciptanya usaha yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan,” ungkapnya.

Melalui pengalamannya mengikuti PKM yang berhasil mendapatkan pendanaan dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemdiktisaintek ini, Sozia juga mengajak mahasiswa untuk berani menghasilkan inovasi yang berangkat dari permasalahan nyata di masyarakat.

“PKM mengajarkan kami bahwa penelitian dan inovasi tidak hanya berhenti pada ide. Yang lebih penting adalah bagaimana ilmu yang dimiliki dapat diterapkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Jangan takut memulai, karena setiap persoalan di sekitar kita selalu membuka peluang lahirnya solusi baru,” pungkasnya. (dil/ajf)

#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #IKU3 #IKU5 #IKU7 #IKU12