Olah Limbah Jagung dan Kelor, Mahasiswa KKN UNEJ Dorong Kemandirian Energi dan Penanganan Stunting di Situbondo

Jember, 21 Agustus 2026

Hamparan ladang jagung menjadi pemandangan yang tidak asing di Desa Pokaan, Kecamatan Kapongan, Kabupaten Situbondo.

Namun di balik hasil panen yang melimpah, pemanfaatan bonggol jagung masih terbatas ditambah dengan tingginya angka stunting. Berangkat dari hasil observasi dan musyawarah desa, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Desa Pokaan Universitas Jember (UNEJ) mengembangkan dua inovasi berbasis potensi lokal, yakni briket bonggol jagung sebagai bahan bakar alternatif dan olahan daun kelor dalam bentuk bubuk untuk mendukung pemenuhan gizi keluarga.

Menurut Gayatri Alifia Salsabila, salah satu mahasiswa KKN UNEJ di Desa Pokaan, menjelaskan bahwa ide pemanfaatan bonggol jagung berangkat dari kondisi desa yang memiliki cukup banyak lahan pertanian jagung.

“Awalnya saat survei kami melihat banyak ladang jagung yang kering dan juga terdapat gulma. Setelah melakukan observasi lebih lanjut, ternyata untuk persoalan gulma masyarakat sudah memiliki solusi sendiri. Kami kemudian melihat hasil panennya, khususnya bonggol jagung,” ujarnya usai mengikuti acara penutupan KKN pada Kamis (20/08/2026).

Potret Mahasiswa KKN Desa Pokaan saat melakukan sosialisasi cegah stunting

Selama ini, bonggol jagung dari hasil panen umumnya dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk pabrik tahu atau pakan ternak. Padahal, menurut Gayatri, limbah tersebut masih memiliki peluang untuk diolah menjadi produk lain yang memiliki nilai guna. Dorongan untuk menghadirkan inovasi semakin kuat karena pelaksanaan KKN tahun ini mengusung semangat “Situbondo Naik Kelas”. Sementara itu, Kecamatan Kapongan membawa tema “Digitalisasi Desa”.

Proses pembuatannya terbilang mudah: bonggol dikeringkan di bawah sinar matahari, dibakar menjadi abu, lalu dicampur larutan tepung kanji yang dimasak bening. Adonan kental tersebut dicetak menggunakan pipa, kemudian dijemur selama empat hingga lima hari hingga benar-benar kering dan siap digunakan.

Kendati prosesnya sederhana, keterbatasan durasi KKN dan lamanya waktu pengeringan briket menjadi tantangan tersendiri, sehingga kelompok mahasiswa menyiasatinya dengan sosialisasi materi dan pembagian modul digital melalui grup desa. “Kami berharap masyarakat mau menerima dan mencoba berinovasi. Karena sebenarnya prosesnya sederhana dan bahan-bahannya juga mudah didapatkan di Desa Pokaan,” imbuhnya.

Foto hasil produk inovasi bubuk kelor dan puding kelor mahasiswa KKN Desa Pokaan UNEJ

Selain masalah energi, program ini juga menyasar persoalan stunting yang diidentifikasi mahasiswa usai berdiskusi dengan perangkat kesehatan desa, bidan, serta para ibu di Puskesmas Pembantu (Pustu). Temuan tersebut menunjukkan masih perlunya perbaikan pola pemenuhan gizi anak yang belum seimbang, di mana tercatat terdapat 5 anak stunting dan 18 anak rentan stunting yang sebagian besar berasal dari kelompok balita. Solusi kemudian difokuskan pada tanaman kelor yang tumbuh subur di sekitar desa.

“Di Desa Pokaan tanaman kelor cukup banyak, tetapi selama ini pemanfaatannya masih terbatas, biasanya hanya dijadikan sayur bening. Padahal kelor bisa diolah menjadi berbagai jenis makanan,” jelas Gayatri.

Mahasiswa mengolah daun kelor menjadi bentuk bubuk praktis yang dapat dicampurkan ke dalam berbagai produk pangan, seperti puding dan dawet, guna memperluas variasi menu bergizi keluarga. Tantangan utamanya adalah menumbuhkan minat warga agar terbiasa mengolah bahan lokal tersebut secara mandiri. “Tantangannya adalah bagaimana bubuk kelor ini bisa diterima masyarakat dan kemudian mereka bisa mengembangkannya sendiri menjadi bahan makanan. Harapannya bukan hanya kami yang membuat, tetapi masyarakat juga tergerak untuk berinovasi,” pungkasnya.

Foto bersama mahasiswa KKN Desa Pokaan UNEJ dengan warga setempat saat demonstrasi pembuatan puding kelor

Melalui kedua program inovatif ini, mahasiswa KKN UNEJ membuktikan bahwa solusi atas permasalahan desa tidak harus rumit, melainkan cukup dengan mengoptimalkan potensi lokal yang ada di sekitar masyarakat. (dil/rb)

#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #IKU3 #IKU5 #IKU12