Bukan Sekadar Belajar Fisika, Mahasiswa UNEJ Bawa Pengetahuan Nelayan Puger ke Kelas untuk Hadapi Ancaman Tsunami

Jember, 5 September 2026

Pengetahuan nelayan membaca bintang, bulan, arah angin hingga tanda-tanda alam di laut selama ini diwariskan dari generasi ke generasi.

Di Puger, Kabupaten Jember, pengetahuan tersebut kini dibawa mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) ke ruang kelas dan dipadukan dengan astronomi, oseanografi, serta teknologi pembelajaran untuk memperkuat literasi sains dan kesiapsiagaan bencana siswa pesisir.

Inisiatif itu dilakukan lima mahasiswa UNEJ melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) bertajuk “Transformasi Pembelajaran Fisika Berbasis Eksplorasi Astro-Oceanografi untuk Penguatan Literasi Sains dan Kesiapsiagaan Bencana Bermuatan Kearifan Lokal Pesisir Puger.” Tim tersebut terdiri atas Shofiyatul Lailiyah, Ina Frebianti, Mabruroh, Aziziyatur Rahmah, dan Auri Letha Azzura Wijaya, dengan dosen pembimbing Lailatul Nuraini, S.Pd., M.Pd. Program berlangsung Juni hingga September 2026.

Ketua Tim PKM-RSH, Shofiyatul Lailiyah, mengatakan program ini berangkat dari kebutuhan menghadirkan pembelajaran fisika yang dekat dengan kehidupan siswa pesisir.

Tim bersama siswa melaksanakan pengamatan bulan pada malam hari sebagai bagian dari implementasi materi astro-oceanografi di sekolah.

“Kami ingin siswa tidak hanya mempelajari fisika sebagai teori di dalam kelas. Pengetahuan yang sudah hidup di masyarakat nelayan kami jadikan pintu masuk untuk memahami sains, sekaligus membangun kesadaran bahwa mereka tinggal di wilayah yang memiliki potensi bencana tsunami,” ujarnya.

Penelitian diawali dengan menggali informasi masyarakat Puger, tim mewawancarai sejumlah nelayan. Salah satu temuan menarik adalah penggunaan rasi bintang Talu-talu, tiga bintang yang tersusun lurus dari timur ke barat, sebagai penunjuk arah dan penanda waktu sebelum kompas dikenal. Nelayan juga membaca arah angin, pola gelombang, posisi bulan, serta pasang-surut untuk menentukan aktivitas melaut.

Menurut Sugiyono, salah satu nelayan Puger mengungkapkan, pengetahuan membaca tanda alam merupakan bagian dari pengalaman nelayan yang diwariskan dan digunakan untuk membantu menentukan kondisi sebelum melaut.

Siswa SMKN Puger mencoba media reel simulasi tsunami dalam kegiatan implementasi pembelajaran fisika berbasis astro-oceanografi.

“Bagi nelayan, melihat bintang, bulan, angin dan gelombang bukan sekadar kebiasaan. Tanda-tanda alam itu menjadi bagian dari pengetahuan untuk menentukan waktu dan arah ketika berada di laut,” ungkapnya.

Pengetahuan lokal tersebut kemudian dipertemukan dengan konsep sains modern. Tim mengembangkan tiga produk pembelajaran, yakni media reel berupa simulasi tsunami, media digital interaktif berbasis Articulate Storyline, serta buku panduan bagi siswa. Tradisi Petik Laut Puger juga dimasukkan sebagai konteks pembelajaran untuk menguatkan nilai konservasi dan kesiapsiagaan bencana.

Sementara itu, Dosen Pembimbing Lailatul Nuraini, S.Pd., M.Pd., menjelaskan, kekuatan program terletak pada upaya mempertemukan pengetahuan masyarakat dengan pembelajaran sains di sekolah.

“Pembelajaran akan lebih bermakna ketika siswa dapat melihat hubungan antara konsep yang dipelajari dengan realitas di lingkungan mereka. Kearifan lokal masyarakat pesisir tidak kami tempatkan sebagai sesuatu yang terpisah dari sains, tetapi sebagai konteks untuk membangun pemahaman dan berpikir kritis,” ujarnya.

Implementasi program dilakukan di SMKS Puger pada bulan Agustus 2026 lalu, dengan melibatkan 54 siswa kelas X Akuntansi dan X Usaha Layanan Wisata. Siswa mencoba simulasi tsunami, media digital interaktif, sekaligus melakukan pengamatan bulan untuk memahami hubungan fase bulan, pasang-surut air laut, dan aktivitas nelayan. Pembelajaran juga dievaluasi melalui pretest dan posttest untuk melihat perkembangan literasi sains dan kesiapsiagaan bencana.

“Program ini juga mengangkat tradisi Petik Laut Puger, yang diamati langsung tim pada 30 Juni 2026. Tradisi tersebut merupakan ungkapan syukur masyarakat nelayan atas rezeki laut dan memiliki rangkaian kegiatan seperti khataman Al-Qur’an, tahlil, kirab budaya, pagelaran wayang kulit hingga prosesi pelarungan sesaji,” jelasnya.

Tim menyusuri perairan Puger sebagai bagian dari observasi langsung tradisi Petik Laut.

Melalui pendekatan tersebut, para mahasiswa tidak sekadar mengajarkan konsep fisika, tetapi berupaya menjadikan sekolah sebagai ruang untuk mempertemukan sains, budaya, dan kesiapsiagaan bencana.

Tim PKM-RSH Astro-Oceanografi berdiskusi dengan nelayan Puger untuk menggali kearifan lokal pembacaan bintang, bulan, dan tanda alam

“Kami berharap model pembelajaran ini dapat dikembangkan lebih luas di sekolah-sekolah pesisir Indonesia sehingga siswa mampu memahami lingkungan sekaligus lebih siap menghadapi potensi bencana yang ada di sekitarnya.”pungkasnya.(is)