Jember, 11 September 2026
Perguruan tinggi bukan hanya ruang bagi mahasiswa untuk memperoleh pengetahuan dan mengembangkan kompetensi akademik. Di dalamnya terdapat perjalanan panjang yang juga menyangkut proses adaptasi, pengembangan diri, relasi sosial, kesehatan mental, hingga kemampuan mahasiswa menghadapi berbagai tantangan selama menjalani pendidikan.
Guna mendampingi mahasiswa menghadapi masalah psikologis dan sosial, Universitas Jember (UNEJ) menyiapkan Pusat Layanan Konseling dan Difabel (PLKD) di bawah Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pendidikan (LPMPP). Tidak hanya membantu mahasiswa menyelesaikan masalah, PLKD telah melangkah lebih jauh dengan merancang layanan dengan pendekatan promotif, preventif, responsif, dan inklusif.
”Berbagai inovasi tersebut mencakup pengembangan skrining kesehatan mental-emosional mahasiswa setiap semester, peningkatan literasi kesehatan mental, penguatan kapasitas Dosen Pembimbing Akademik (DPA), pengembangan Early Warning System, hingga penguatan layanan aksesibilitas bagi mahasiswa difabel. Termasuk Sistem Informasi Konseling Akademik (SISKA) semenjak tahun 2025 untuk meningkatkan akses layanan konseling” tutur Prof. Ermanto Fahamsyah saat ditemui di kantor LPMPP UNEJ (11/9/2026).

Upaya menjaga kesehatan mental mahasiswa UNEJ juga dilakukan melalui skrining kesehatan mental-emosional yang dilaksanakan setiap semester. Hal yang menarik dari program ini adalah pelaksanaannya yang diintegrasikan dengan proses pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) mahasiswa. Integrasi tersebut memiliki nilai strategis.
Proses KRS merupakan salah satu aktivitas akademik yang secara rutin dilakukan mahasiswa setiap semester. Dengan mengintegrasikan skrining kesehatan mental – emosional ini ke dalam proses tersebut, universitas dapat menjangkau seluruh mahasiswa secara lebih sistematis dan berkala. DPA juga dapat melihat hasil asesmen dan memberikan tindakan yang tepat untuk membantu mahasiswa.
Skrining bukan dimaksudkan untuk memberikan label atau diagnosis kepada mahasiswa. Sebaliknya, skrining berfungsi sebagai upaya deteksi awal untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi kesehatan mental-emosional mahasiswa dan mengidentifikasi mahasiswa yang mungkin membutuhkan perhatian atau dukungan lebih lanjut.
”Hasil skrining dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memberikan edukasi, konseling, pendampingan, maupun rujukan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa, serta dasar pertimbangan penyusunan program dan kebijakan” kata Prof. Ermanto Fahamsyah.

Sementara itu SISKA dikembangkan untuk menjawab salah satu tantangan dalam layanan konseling mahasiswa, yaitu bagaimana menyediakan akses layanan yang mudah, fleksibel, terstruktur, dan dapat menjangkau mahasiswa secara lebih luas. Melalui Aplikasi SISKA, mahasiswa dapat mengakses layanan konseling tanpa harus melalui proses yang rumit. Sistem ini menjadi pintu masuk bagi mahasiswa untuk memperoleh dukungan ketika menghadapi berbagai persoalan yang berkaitan dengan kehidupan akademik maupun kehidupan mahasiswa secara lebih luas.
Salah satu keunggulan SISKA adalah tersedianya pilihan konselor. Saat ini, layanan SISKA didukung oleh lebih dari 100 konselor yang dapat dipilih oleh mahasiswa. Pilihan tersebut memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menentukan konselor yang dirasakan paling sesuai dengan kebutuhan dan kenyamanan mereka. Aspek kenyamanan menjadi penting dalam konseling karena keberhasilan proses konseling sangat dipengaruhi oleh adanya rasa aman, kepercayaan, dan keterbukaan antara mahasiswa dengan konselor.
”Dengan demikian, SISKA tidak sekadar menjadi aplikasi untuk melakukan pendaftaran konseling. Lebih dari itu, SISKA menjadi bagian dari transformasi digital layanan dukungan mahasiswa di Universitas Jember,” ujar Koordinator PLKD Emi Wuri Wuryaningsih.

Emi, begitu sapaan akrabnya, menambahkan pada tahun 2025 terdapat 206 mahasiswa yang menggunakan fasilitas SISKA. Dari jumlah tersebut 8 mahasiswa dirujuk ke fasilitas kesehatan. Sementara pada tahun ini hingga bulan September ada 288 mahasiswa yang menggunakan SISKA dengan 27 mahasiswa dirujuk ke fasilitas kesehatan.
”Keluhan yang banyak kami terima adalah kecemasan, yang membuat mereka gelisah bahkan membuat susah tidur. Penyebabnya ada yang karena masalah dengan keluarga, pertemanan, hingga pacar, juga termasuk relasi dosen-mahasiswa” imbuh Emi yang juga dosen Keperawatan Jiwa di Fakultas Keperawatan UNEJ.
Pusat Layanan Konseling dan Difabel LPMPP Universitas Jember terus berupaya memastikan bahwa keberhasilan pendidikan mahasiswa tidak hanya diukur dari capaian akademiknya. Kesejahteraan, kesehatan mental, rasa aman, aksesibilitas, kesempatan berkembang, dan kemampuan mahasiswa untuk memperoleh dukungan ketika menghadapi kesulitan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kualitas pengalaman pendidikan tinggi.
Melalui berbagai program yang telah dikembangkan, Universitas Jember menunjukkan komitmen untuk membangun lingkungan akademik yang lebih responsif terhadap kebutuhan mahasiswa, lebih kuat dalam melakukan pencegahan dan deteksi dini, serta semakin inklusif terhadap keberagaman.
”Pada akhirnya, kampus yang sehat bukan hanya kampus yang mampu menghasilkan lulusan berprestasi, tetapi juga kampus yang mampu memastikan bahwa setiap mahasiswa memiliki kesempatan untuk belajar, berkembang, berkarya, dan menyelesaikan perjalanan pendidikannya dalam lingkungan yang mendukung,” pungkas Prof. Ermanto Fahamsyah. (PLKD/iim)

