Jember, 30 September 2026
Gelombang kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mengalami lonjakan tajam sejak awal September 2026.
Tren peningkatannya tidak hanya memicu antrean panjang di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti Puskesmas dan klinik mandiri, tetapi juga menyebabkan tingkat keterisian tempat tidur di sejumlah rumah sakit melonjak signifikan. Kondisi ini memaksa sejumlah Instalasi Gawat Darurat (IGD) menampung pasien rawat inap akibat minimnya ketersediaan ruang perawatan.Pakar Mikrobiologi Medis dan Pediatri dari Fakultas Kedokteran Universitas Jember (FK UNEJ) sekaligus Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Jember, dr. M. Ali Shodikin, M.Kes., Sp.A., mengungkapkan bahwa penurunan kualitas udara akibat polusi, debu, dan dinamika iklim ekstrem menjadi faktor utama yang merusak keutuhan sistem pertahanan pernapasan masyarakat.
“Polutan udara berupa asap dan debu berukuran mikro merusak epitel serta fungsi pembersihan alami saluran pernapasan. Dampaknya muncul gejala sistemik seperti batuk, pilek, nyeri tenggorokan, hingga sesak napas,” ujar dr. Ali Shodikin.
Ia menegaskan bahwa kendati polusi udara mengancam seluruh lapisan umur, dampak paling berat terdistribusi pada dua kelompok rentan utama. “Semua kelompok usia dapat terdampak. Namun, kelompok yang paling rentan mengalami gangguan respirasi berat akibat polusi adalah anak-anak usia di bawah lima tahun (balita) serta kelompok lanjut usia di atas 60 tahun,” tambahnya.
Seiring memburuknya kualitas udara sepanjang September 2026, lonjakan pasien ISPA tercatat didominasi oleh kelompok balita. Kenaikan drastis tidak hanya terjadi pada kasus ringan, melainkan juga pada kasus yang disertai komplikasi klinis.
“Memasuki September 2026, terjadi peningkatan tajam kasus ISPA, terutama pada balita. Jumlah pasien yang membutuhkan rawat inap naik signifikan hingga menyebabkan ruang perawatan di beberapa rumah sakit penuh. Pasien harus menunggu cukup lama di IGD, dan sebagian terpaksa mendapatkan perawatan intensif sementara di area IGD,” terang akademisi FK UNEJ tersebut.
Menanggapi situasi ini, dr. Ali mengingatkan masyarakat untuk membedakan antara batuk-pilek biasa dengan serangan Influenza A yang berpotensi memicu komplikasi fatal.
“Flu akibat Influenza A kerap diawali demam tinggi mendadak melebihi 40°C, disertai nyeri otot dan sendi yang berat, mual, hingga penurunan nafsu makan yang drastis. Masyarakat perlu mewaspadai red flags atau tanda bahaya komplikasi, seperti demam di atas 39°C yang tak kunjung turun, gejala dehidrasi—mata cekung, bibir kering, tidak buang air kecil lebih dari 6 jam—serta tanda sesak napas seperti napas cepat, adanya tarikan dinding dada ke dalam, kebiruan pada bibir, hingga penurunan kesadaran,” paparnya.
Guna menahan laju rujukan ke rumah sakit, dr. Ali menekankan krusialnya penguatan peran fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) dalam penapisan (screening) dini.
“Puskesmas dan klinik mandiri harus diperkuat, baik dari kesiapan SDM medis, ketersediaan obat-obatan, hingga fasilitas penunjang diagnosis seperti rapid test Influenza maupun pemeriksaan PCR. Penanganan yang tepat di tingkat awal akan mencegah kasus ringan berkembang menjadi kondisi kritis,” jelas Ketua IDI Jember tersebut.
Sebagai langkah penanggulangan mandiri di tingkat masyarakat, dr. Ali mengimbau agar penerapan protokol kesehatan kembali ditingkatkan secara disiplin:
1. Penggunaan Masker & Etika Batuk: Wajib menggunakan masker bagi warga yang sedang mengalami gejala flu serta terapkan etika menutup hidung/mulut saat batuk atau bersin.
2. Isolasi Mandiri & Istirahat: Anak-anak yang menunjukkan gejala flu ringan harus segera diistirahatkan dari aktivitas sekolah, mengaji, maupun kegiatan luar rumah, serta menghindari kebiasaan tidur larut malam.
3. Kebersihan & Nutrisi: Membiasakan cuci tangan dengan sabun setelah membersihkan ingus atau memegang area wajah, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, dan meminimalkan paparan asap rokok, pembakaran sampah, serta debu jalanan.
4. Vaksinasi Influenza: Mengingat virus influenza rutin mengalami mutasi genetik, pemberian vaksin influenza tahunan secara berkala sangat disarankan untuk membentuk antibodi spesifik.
“Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan. Terapkan pola hidup bersih dan sehat, lindungi kelompok rentan di rumah, dan segera akses penanganan medis terdekat apabila menemukan tanda-tanda bahaya pada anggota keluarga,” tutup dr. Ali. (dil)
#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #IKU7 #IKU8


