Jember, 15 Oktober 2026
Unej Film Festival (UNEFF) 2026 resmi mencatatkan sejarah baru dalam perjalanannya.
Gelaran festival film tahunan yang menjadi bagian dari peringatan Dies Natalis Universitas Jember ke-62 ini sukses menutup masa pengumpulan karya (submission) dengan menghimpun sebanyak 1.565 film dari lebih dari 100 negara di seluruh dunia.Capaian ini meningkat drastis dibandingkan penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya. Ketua UNEFF 2026, Mohammad Ferdiansyah Salim, mengungkapkan bahwa lonjakan peserta internasional terjadi berkat strategi perluasan jangkauan publikasi serta kemudahan sistem pendaftaran bagi para film maker.
“Pada tahun sebelumnya sudah ada beberapa film luar negeri yang masuk, seperti dari Malaysia, tetapi jumlahnya belum banyak. Tahun ini kami memperluas jangkauan submisi melalui platform digital FilmFreeway dan membuka kategori Film Fiksi Internasional. Kami jujur tidak menyangka peningkatannya sedrastis ini. Faktor pendukung lainnya adalah pendaftaran di FilmFreeway yang sangat mudah serta UNEFF 2026 yang tidak memungut biaya submisi (free submission), sehingga pembuat film dari berbagai negara dapat berpartisipasi tanpa terkendala biaya,” jelas Ferdiansyah.

Dari total 1.565 film yang masuk, Indonesia menjadi penyumbang karya terbanyak dengan 349 film, disusul Iran (301 film), Brasil (101 film), dan India (87 film). Selain keempat negara tersebut, ratusan karya lainnya meluncur dari belahan benua Asia, Eropa, Amerika, hingga Afrika, menjadikan Jember sebagai titik temu persemaian sinema berskala global.
Seluruh film yang terdaftar kini memasuki alur seleksi bertahap, dimulai dari uji kelengkapan berkas hingga tahap kurasi untuk memilih 10 film terbaik dari masing-masing 6 kategori kompetisi. Sebanyak 60 film terpilih selanjutnya akan dinilai oleh dewan juri guna menentukan peraih penghargaan Best Film dan Jury Special Mention, serta 16 film pilihan yang akan diputar pada program Layar Komunitas saat MainFest.
Sebelum mencapai puncaknya, UNEFF 2026 telah lebih dulu hadir di tengah masyarakat melalui program Layar Tancap Desa di Balai Desa Balung Lor, Jember. Aksi ini membuktikan bahwa sinema tidak sebatas terkurung di dalam gedung bioskop atau area kampus, melainkan hidup dan merakyat.

Menguatkan ekosistem sinema masa depan, UNEFF 2026 melengkapinya dengan rangkaian pra-festival bertajuk UNEFFenture School di Gedung Soedjarwo Lantai 5 Universitas Jember, Selasa (13/10/2026). Program ini dirancang khusus bagi pelajar tingkat SMP, SMA, dan sederajat untuk mengenalkan dunia perfilman serta proses kreatif di balik layar secara langsung.
Ferdiansyah menambahkan bahwa UNEFFenture School menjadi ruang apresiasi dan edukasi sejak dini. “Program ini dirancang untuk memperkenalkan sinema kepada generasi muda, bukan hanya sebagai tontonan, melainkan juga sebagai ruang untuk belajar, mengapresiasi karya, dan mengenal proses kreatif di balik layar,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Program Director UNEFF 2026, Tevy Al Farrel Sadubi Tjahyanto, memperkenalkan tema besar festival tahun ini, yaitu Dissonance (Disonansi). “Tema Dissonance mengusung gagasan tentang ketidakselarasan, perbedaan, dan pertentangan—sebuah dinamika yang kerap ditemukan baik dalam narasi film maupun realitas kehidupan sehari-hari,” terang Tevy.

Antusiasme peserta UNEFFenture School kian terpacu saat menyaksikan pemutaran tiga film pendek fiksi: Menjadi Maling dalam 11 Menit Bersama Bang Sat karya Reihan Dani, Sepiring Sunyi di Atas Meja karya Sandy Bima, serta Gadis dan Penatu karya Alam Alghifari. Salah satu peserta, Yaya, mengaku tersentuh selama kegiatan berlangsung. “Seru banget, apalagi ini pertama kalinya aku nonton film-film ini, terutama film kedua yang bikin terharu,” ungkapnya.
Kegiatan berlanjut dengan pembekalan materi departemen artistik yang dipandu oleh Muhkamad Rafi Assidiqi (Mas Rimba). Ia membekali peserta tentang alur kerja tim artistik, peran art director, hingga efisiensi properti. “Harapannya, setelah mendapatkan materi ini, mereka bisa membuat film yang jauh lebih baik lagi,” ujar Mas Rimba di sela sesi diskusi interaktif.
Kehadiran UNEFFenture School menjadi wadah inkubasi yang memantik keberanian generasi muda untuk merangkai gagasan visual mereka sendiri. Pengetahuan dasar yang dipelajari para siswa hari ini diharapkan menjadi pijakan awal bagi lahirnya sineas-sineas muda potensial di masa mendatang.

Penutupan masa pengumpulan karya bukanlah garis akhir, melainkan awal hitungan mundur menuju puncak perayaan sinema di Jember. Ribuan cerita dari belahan dunia kini bersiap menempati panggungnya dalam rangkaian MainFest yang mempertemukan pembuat film dan penikmat sinema.
Universitas Jember bersama panitia UNEFF 2026 mengundang seluruh lapisan masyarakat untuk hadir dan merayakan pesta sinema ini bersama-sama. Sampai jumpa di rangkaian perhelatan UNEFF 2026—Ayo Dolan Jember! (dil)
#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #IKU3 #IKU5 #IKU7

