Jember, 9 Juni 2026
Di tengah meningkatnya tantangan global yang dihadapi sektor pertanian, mulai dari perubahan iklim, fluktuasi harga komoditas, disrupsi rantai pasok, hingga perubahan regulasi perdagangan internasional, pemanfaatan data dan teknologi menjadi kebutuhan mendesak dalam membangun ketahanan ekonomi pertanian yang berkelanjutan.
Menjawab tantangan tersebut, Laboratorium Komputasi dan Sistem Informasi (Lab-KSI) Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jember (UNEJ) menyelenggarakan Hybrid International Seminar bertajuk “Navigating Uncertainty: Data-Driven Strategies for Resilient Agricultural Economics (Special Focus on Market Intelligence and Innovative Research Ideas)”, Senin (9/6/2026), di Hall Fakultas Pertanian Universitas Jember.
Kegiatan yang dilaksanakan secara hybrid ini merupakan hasil kolaborasi antara Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian UNEJ dengan Mahasarakham University Thailand serta peneliti dari A Data Pro.
Seminar menghadirkan akademisi dan praktisi yang memiliki kompetensi di bidang ekonomi pertanian, market intelligence, dan riset berbasis data dari Indonesia maupun Thailand.
Tiga narasumber utama yang hadir dalam seminar internasional tersebut adalah Dr. Orawan Srisompun dan Sarawut Saenkham (Ph.D Candidate) dari Mahasarakham University Thailand, serta Ahmad Fatikhul Khasan, S.P., M.P. (Doctoral Candidate) dari A Data Pro Indonesia. Seminar dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Pertanian Universitas Jember, Prof. M. Rondhi, S.P., M.P., Ph.D.
Dalam sambutannya, Prof. Rondhi menegaskan, sektor pertanian global saat ini sedang menghadapi periode ketidakpastian yang kompleks dan multidimensional.
Menurutnya, perubahan iklim yang semakin ekstrem, volatilitas pasar komoditas, transformasi rantai pasok global, perkembangan teknologi digital yang sangat cepat, serta dinamika regulasi perdagangan internasional telah menciptakan tantangan baru yang harus direspons secara adaptif oleh dunia akademik maupun pelaku usaha pertanian.

“Ekonomi pertanian saat ini membutuhkan pendekatan baru yang lebih adaptif dan berbasis bukti. Pemanfaatan market intelligence, business intelligence, data sekunder, hingga analisis berbasis data menjadi instrumen penting untuk memperkuat resiliensi sektor pertanian di masa depan. Seminar ini menjadi ruang yang sangat strategis untuk memperdalam implementasi pendekatan data-driven strategies dalam pembangunan pertanian,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Laboratorium Komputasi dan Sistem Informasi (Lab-KSI) Fakultas Pertanian UNEJ, Julian Adam Ridjal, S.P., M.P., menjelaskan bahwa seminar internasional ini dirancang sebagai wadah pertukaran gagasan, pengalaman, dan perspektif lintas negara terkait strategi menghadapi ketidakpastian global dalam sektor pertanian.
Menurutnya, kolaborasi antara akademisi internasional dan praktisi industri data menjadi langkah penting untuk menghasilkan riset ekonomi pertanian yang lebih relevan dengan kebutuhan pembangunan saat ini.
“Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh wawasan internasional mengenai strategi adaptasi ekonomi pertanian, memahami pentingnya pemanfaatan data dalam pengambilan keputusan, serta terdorong untuk mengembangkan penelitian yang mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek ketahanan pangan, pembangunan ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia juga menambahkan, sinergi antara perguruan tinggi dan industri data juga diharapkan mampu menghasilkan penelitian yang memiliki dampak nyata bagi masyarakat serta menjawab kebutuhan para pemangku kepentingan, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Dalam sesi pemaparan ilmiah, Dr. Orawan Srisompun menekankan bahwa arah pengembangan riset ekonomi pertanian dan agribisnis saat ini harus mampu menjawab isu-isu strategis global seperti ketahanan pangan, perubahan iklim, transformasi digital, dan keberlanjutan sistem pertanian.
Ia menilai bahwa penggunaan metode penelitian modern berbasis data menjadi kunci dalam menghasilkan inovasi dan solusi yang relevan bagi pembangunan pertanian masa depan, baik di Thailand maupun Indonesia.
Sementara itu, Sarawut Saenkham memaparkan pentingnya inovasi teknologi dalam meningkatkan efisiensi produksi dan nilai tambah komoditas pertanian. Menurutnya, penerapan teknologi yang tepat mampu membantu petani meningkatkan kualitas hasil produksi, mengurangi kehilangan hasil panen, serta memperkuat daya saing produk agribisnis di pasar domestik maupun global.
Pada kesempatan yang sama, Ahmad Fatikhul Khasan mengangkat isu penting mengenai market intelligence dan pemanfaatan open-source intelligence dalam menghadapi perubahan regulasi perdagangan internasional, termasuk European Union Deforestation Regulation (EUDR).
Menurutnya, kemampuan melakukan analisis data, ketertelusuran rantai pasok (traceability), serta pemetaan informasi strategis menjadi kompetensi yang harus dimiliki oleh peneliti dan pelaku agribisnis di era digital saat ini.
“Regulasi global terus berkembang dan menuntut transparansi yang semakin tinggi. Oleh karena itu, kemampuan membaca data, memahami pasar, serta mengelola informasi menjadi modal penting untuk menjaga daya saing sektor pertanian Indonesia,” ungkapnya.
Antusiasme peserta terhadap seminar internasional ini sangat tinggi. Penanggung jawab kegiatan, Rizky Yanuarti, S.P., M.P., menyampaikan bahwa sebanyak 84 peserta mengikuti kegiatan secara luring di Hall Fakultas Pertanian UNEJ, sementara 734 peserta lainnya mengikuti seminar secara daring melalui platform Zoom Meeting.
Peserta daring berasal dari 38 perguruan tinggi anggota Ikatan Program Studi Agribisnis Indonesia (IPSAGRI) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Tingginya partisipasi tersebut menunjukkan semakin besarnya perhatian kalangan akademisi terhadap pentingnya pemanfaatan data dan teknologi dalam pengembangan ekonomi pertanian yang tangguh dan berkelanjutan.
Melalui penyelenggaraan seminar internasional ini, Fakultas Pertanian Universitas Jember kembali menegaskan komitmennya sebagai institusi pendidikan tinggi yang aktif mendorong pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi internasional guna mendukung transformasi sektor pertanian Indonesia menuju sistem yang lebih modern, adaptif, berbasis data, dan berkelanjutan di tengah dinamika global yang terus berkembang.(is)


