Jember, 9 Juni 2026
Berangkat dari keresahan terhadap tingginya penggunaan tisu berbahan kayu dan melimpahnya limbah jerami yang belum termanfaatkan optimal, mahasiswa Fakultas Pertanian, Program Studi Agroteknologi menghadirkan gagasan inovatif bertajuk SEEDTISS, sebuah tisu dapur biodegradable berbahan limbah jerami padi yang terintegrasi benih bayam.
Tergabung dalam tim “Kita Bisa” yang beranggotakan Arinta Marwah Nur Baiti, Destia Keke Rizky, dan Fajriyanti Azizah, ketiganya mengusung konsep produk berfungsi ganda, di mana satu produk memiliki dua manfaat sekaligus — digunakan sebagai tisu dapur, lalu dapat ditanam hingga tumbuh menjadi tanaman pangan.
Ini tidak hanya menawarkan solusi yang ramah lingkungan, tetapi juga mendukung ketahanan pangan keluarga.“Melalui SEEDTISS, kami ingin menghadirkan solusi sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi tetap memberi dampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat,” ujar Fajriyanti Azizah.

Jerami padi dipilih karena jumlahnya sangat melimpah di Indonesia, khususnya di daerah pertanian, namun pemanfaatannya masih belum optimal. Selama ini, sebagian besar limbah jerami hanya dibakar setelah masa panen sehingga menimbulkan polusi udara dan berdampak buruk bagi lingkungan. Padahal, jerami memiliki kandungan selulosa yang cukup tinggi sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku alternatif dalam pembuatan tisu ramah lingkungan.
Melalui SEEDTISS, limbah pertanian yang sebelumnya kurang bernilai diolah menjadi produk inovatif dengan konsep ekonomi sirkular, yaitu mengembalikan limbah ke dalam siklus pemanfaatan agar tidak berakhir sebagai sampah. Tisu berbahan jerami memiliki daya serap yang baik, mudah terurai secara alami, dan lebih berkelanjutan dibandingkan tisu konvensional berbahan dasar kayu.
Selain itu, integrasi benih bayam di dalam serat tisu memungkinkan produk memiliki “kehidupan kedua”, yakni dapat ditanam setelah digunakan sehingga mendukung ketahanan pangan keluarga secara sederhana. Keunggulan konsep inilah yang mengantarkan Tim “Kita Bisa” meraih Juara 1 dalam IGNITE National Essay Competition 2026, membuktikan bahwa inovasi berbasis kearifan lokal mampu bersaing di tingkat nasional.
“Setelah tisu digunakan, produk dapat ditanam di tanah atau pot sehingga benih bayam yang terintegrasi di dalam serat tisu dapat tumbuh menjadi tanaman pangan untuk kebutuhan rumah tangga,” ungkap Fajriyanti Azizah.

Dalam proses pengembangannya, tim menghadapi tantangan besar, terutama saat harus membagi waktu antara persiapan presentasi final, pembuatan prototipe, dan tuntutan perkuliahan seperti tugas laporan praktikum yang berjalan bersamaan. Namun, nama tim “Kita Bisa” yang awalnya dipilih secara spontan justru menjadi pengingat sekaligus penyemangat untuk terus melangkah hingga akhir kompetisi.
Selama proses pengembangan inovasi, tim mengaku mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak. Proses penyusunan gagasan hingga persiapan kompetisi didampingi oleh Dr. Agus Wedi Pratama selaku dosen pembimbing. Selain itu, Fakultas Pertanian juga memberikan dukungan penuh berupa bantuan biaya transportasi dan konsumsi selama perjalanan menuju Universitas Diponegoro. Melalui capaian ini, tim berharap inovasi SEEDTISS dapat terus dikembangkan menjadi produk nyata yang mampu memberi dampak luas bagi masyarakat, khususnya dalam mendukung pengelolaan limbah pertanian dan kesadaran lingkungan berkelanjutan.
“Kadang, untuk melangkah kita memang perlu sedikit nekat. Pemenang sering kali lahir dari keberanian untuk mencoba. Jadi jangan takut gagal selama berkompetisi — manfaatkan sebaik mungkin kesempatan yang ada selama masa studi,” pungkasnya. (dil/ajf)
#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #IKU3

