Suara Perjuangan dari Kampus Bondowoso: Langkah M. Alif Muzhaffar Menembus Keterbatasan di Pilmapres Nasional 2026

Jember, 10 Agustus 2026

Di tengah ruang-ruang akademik yang sering kali menuntut kesempurnaan, sosok M.

Alif Muzhaffar, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Program Studi Gizi, Universitas Jember (UNEJ) Kampus Bondowoso, hadir membawa makna lain tentang perjuangan. Bukan sekadar tentang menjadi mahasiswa berprestasi, tetapi tentang bagaimana ia telah membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti berkembang.

Sejak kecil, Alif tumbuh dengan kondisi tuli parsial (single-sided deafness) dan low vision. Dalam kesehariannya, ia harus berjuang lebih keras dibandingkan kebanyakan mahasiswa lain. Tidak semua materi di kelas dapat ditangkap secara utuh. Ada banyak informasi yang terlambat ia ketahui, tugas yang harus dikejar dengan usaha ekstra, hingga proses belajar yang menuntutnya untuk terus beradaptasi. Dari segala keterbatasan itu, Alif menjadikan pengalaman sebagai materi tentang arti rasa syukur dan cara memandang kehidupan dengan lebih luas.

β€œKalau kita sudah memiliki keterbatasan, maka jangan sampai hal-hal lain ikut membatasi diri kita.” ujarnya.

Pemberian Sertifikat Juara 2 Pilmapres FKM oleh Dekan FKM

Prinsip itulah yang tertanam dan mengantarkan Alif untuk terus berambisi aktif dalam berbagai bidang. Ia tercatat pernah terlibat dalam pengabdian masyarakat di Desa Warloka Pesisir, Labuan Bajo. Alif melihat secara langsung berbagai dinamika permasalahan kesehatan masyarakat pesisir, mulai dari malnutrisi, stunting, diare, kaki O pada anak, hingga persoalan sanitasi yang masih menjadi tantangan besar.

Tak hanya itu, Alif juga pernah mengikuti SDGs Ambassador di Malang dan Youth Conference di Jepang. Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan anak muda hebat dari berbagai latar belakang yang memiliki kepedulian terhadap isu pembangunan berkelanjutan. Dari pengalaman itu pula, Alif pernah mencoba mereplikasi pengabdian masyarakat di Labuan Bajo ke daerah asalnya di Jember, tepatnya di Desa Kasiyan Timur. Ia mencoba membawa semangat dan pendekatan yang sama dalam pemberdayaan masyarakat, khususnya terkait edukasi kesehatan dan gizi.

Ketertarikan Alif pada bidang gizi berawal dari pengalaman pribadi dan lingkungan sekitarnya. Ia melihat bahwa kesehatan bukan hanya tentang pengobatan, tetapi juga tentang pencegahan, kualitas hidup, dan bagaimana seseorang dapat tumbuh secara optimal sesuai kondisinya masing-masing. Baginya, gizi bukan sekadar persoalan makanan, melainkan tentang bagaimana setiap individu memiliki kebutuhan nutrisi yang berbeda dan spesifik sesuai kondisi tubuh, lingkungan, maupun faktor kesehatannya.

Alif ketika menjadi finalis SDGs Ambassador UNEJ

β€œDari situ saya merasa bidang gizi bukan hanya ilmu yang ingin saya pelajari, tetapi juga ruang yang membuat saya mampu memahami, membantu, dan memberi dampak bagi orang lain dengan pendekatan yang lebih manusiawi dan inklusif,” ungkapnya.

Perjuangan dan komitmen Alif tersebut mencapai puncaknya ketika ia sukses menembus babak final Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Tingkat Nasional Tahun 2026 yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi di Universitas Multimedia Nusantara pada 4–8 Agustus 2026 lalu. Keikutsertaan Alif sekaligus mencatatkan sejarah baru, mengingat Pilmapres Nasional 2026 untuk pertama kalinya membuka kategori khusus Mahasiswa Disabilitas Berprestasi.

Dalam ajang bergengsi tersebut, Alif mengusung gagasan mengenai sistem early warning stunting berbasis metabolomics dan digital twin untuk intervensi precision nutraceutical pada balita usia 6-24 bulan. Menurutnya, masalah gizi bukan hanya persoalan kurang makan saja, tetapi juga berkaitan dengan keterlambatan deteksi, keterbatasan akses teknologi kesehatan, edukasi masyarakat, hingga ketepatan intervensi yang diberikan.

Potret Alif mengikuti kegiatan parade busana daerah dalam gelaran Pilmapres Tingkat Nasional, Jumat (07/08/2026)

Berangkat dari permasalahan tersebut, Alif membawa gagasan yang mengintegrasikan teknologi biosensor point-of-care testing (POCT) dengan aplikasi digital berbasis metabolomics dan digital twin. Konsepnya adalah menghadirkan alat deteksi yang praktis dan cepat untuk mengidentifikasi biomarker risiko stunting pada anak usia 6-24 bulan. Data tersebut terhubung dengan aplikasi digital twin yang memproyeksikan pertumbuhan anak, sehingga tenaga kesehatan dapat memperoleh gambaran risiko pertumbuhan secara lebih dini dan personal.

Bagi Alif, menjadi Mahasiswa Berprestasi bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi tentang membawa gagasan dan kebermanfaatan bagi masyarakat. Pengalaman dan capaian yang diraihnya hingga ke tingkat nasional ini juga menjadi bukti bahwa mahasiswa dari kampus daerah mampu bersain dan melahirkan kontribusi prestasi. Menurutnya, kualitas pendidikan di Kampus Bondowoso tidak kalah saing dengan kampus utama karena didukung oleh lingkungan belajar yang kondusif, dosen yang suportif, serta ruang pengembangan yang terbuka sehingga potensi mahasiswa dapat berkembang secara maksimal.

Melalui keikutsertaannya di ajang Pilmapres Nasional ini, Alif berharap semakin banyak ruang yang mampu menghadirkan kesempatan setara bagi seluruh mahasiswa, khususnya penyandang disabilitas, untuk berkembang dan membuktikan potensinya.

M. Alif Muzhaffar, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Program Studi Gizi, Universitas Jember (UNEJ) Kampus Bondowoso dalam Pilmapres Tingkat Nasional di Universitas Multimedia Nusantara

β€œBagi saya, keberanian untuk mencoba jauh lebih penting daripada menunggu sempurna. Karena proses terbesar dalam hidup justru dimulai ketika kita berani melangkah meskipun penuh keterbatasan dan ketidakpastian,” pungkasnya. (dil/ajf)

#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #IKU3 #IKU7