Jember.
6 September 2026Biji kelor yang selama ini dikenal sebagai tanaman pangan ternyata memiliki potensi lain untuk membantu mengatasi persoalan air keruh. Mahasiswa Universitas Jember melalui program PKM-PM BIOCLARE (Bio-Coagulant for Clear Water and Environmental Sustainability) mengembangkan biokoagulan berbasis biji kelor bersama TP PKK Desa Gucialit, Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang.
Hasil pemantauan menunjukkan tingkat kekeruhan air turun secara bertahap, dari 3,5 NTU pada minggu pertama menjadi 1,07 NTU pada minggu keempat. Pada minggu ketiga, kekeruhan telah mencapai 1,33 NTU. Hasil minggu ketiga dan keempat berada di bawah baku mutu 3 NTU yang digunakan dalam laporan program.
Ketua Tim PKM-PM BIOCLARE, Febriani Marsha Dwi H., mengatakan inovasi tersebut tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan air yang lebih jernih, tetapi juga memberikan keterampilan kepada masyarakat agar mampu memanfaatkan potensi lokal.

“Kami ingin masyarakat tidak hanya mengetahui bahwa biji kelor bisa dimanfaatkan sebagai biokoagulan, tetapi juga memahami cara mengolah dan menerapkannya. Harapannya, teknologi sederhana ini bisa terus digunakan dan dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Program tersebut melibatkan 20 anggota TP PKK Desa Gucialit melalui sosialisasi dan praktik pembuatan serbuk biokoagulan. Air keruh kemudian diproses menggunakan alat Bioclare melalui tahapan koagulasi, flokulasi, sedimentasi, dan filtrasi.
“Kami ingin menegaskan, pengujian yang dilakukan masih berfokus pada parameter kekeruhan, sehingga belum dapat menyimpulkan bahwa air telah memenuhi seluruh persyaratan kualitas air minum,” katanya.
Dosen Pembimbing PKM-PM BIOCLARE, Diah Puspaningrum, S.P., M.Si., menilai pendekatan berbasis potensi lokal penting agar inovasi tidak berhenti sebagai proyek mahasiswa.

“Teknologi akan lebih bermanfaat ketika masyarakat mampu memahami dan menerapkannya secara mandiri. Karena itu, kami tidak hanya memberikan teknologi, tetapi juga membangun pengetahuan dan keterampilan masyarakat agar penerapannya dapat berkelanjutan,” katanya.
Ke depan menurutnya, program BIOCLARE diarahkan pada keberlanjutan melalui penguatan kelembagaan mitra, termasuk rencana pembentukan Pokja Air Bersih di bawah TP PKK Desa Gucialit.
Dampak program juga terlihat pada peningkatan pemahaman peserta. Nilai rata-rata 20 anggota TP PKK meningkat dari 61,5 sebelum sosialisasi menjadi 98,5 setelah mengikuti kegiatan. Tim juga melakukan pemantauan dengan mendatangi sekitar 70 persen rumah peserta untuk melihat penerapan biokoagulan sekaligus menyampaikan hasil pengujian laboratorium.

Salah satu warga, Tatik, mengaku merasakan manfaat inovasi tersebut. “Selama ini kalau musim hujan airnya keruh. Setelah saya menerapkan inovasi yang disampaikan, sekarang airnya menjadi lebih bersih,” ungkapnya.(is)

